Kamis, 11 Juli 2013

Doa Cinta



Doa Cinta


Saya bersyukur ke hadirat Tuhan,
telah memberikan anugerah terindah,
dengan mempertemukan dan mengaruniakan seorang wanita,
yang mencintai saya sepenuh hatinya.

Semoga Tuhan memperkenankan saya,
untuk mencintainya seperti dia mencintai saya,
untuk mendampinginya seperti dia mendampingi saya,
untuk menemaninya seperti dia menemani saya,
untuk melindunginya seperti dia melindungi saya,
untuk menolongnya seperti dia menolong saya,
untuk mengasihinya seperti dia mengasihi saya,
untuk menyayanginya seperti dia menyayangi saya.

Baik di dunia nyata,
atau setidak-tidaknya di dunia maya,
maupun di dunia manapun,
dengan cinta yang kekal selamanya,
seperti cinta Tuhan kepada kami.

Namun sekiranya kami kehilangan cinta,
perkenankanlah kiranya kami,
untuk berpisah secara baik-baik,
tanpa dendam dan tanpa kebencian.

Semuanya kami persembahkan,
demi kemuliaan nama Tuhan,
Tuhan yang memberi,
Tuhan yang mengambil,
terpujilah Tuhan.

Amin.




Selasa, 09 Juli 2013

Sidapaksa dan Dewi Sritanjung

Sritanjung gaya Surakarta

Dewi Sritanjung puteri Nakula. Seorang Pandawa. dan Sidapaksa, putera Sadewa, adik ayah Sritanjung. Keduanya terpisah ketika Perang Baratayuda. Keduanya sampai kini tidak saling mengetahui keberadaan mereka.

Sidapaksa meninggalkan Bumiretawu menuju Istana Astina. Ia mengetahui kalau keluarga Pandawa telah tinggal di Istana Astina, menyusul kemenangan Pandawa setelah Perang Baratayudha. Kehadiran Sidapaksa sangat menggembirakan bagi Prabu Parikesit, Karena negeri Astina adalah sebu ah negara baru setelah perang. Sejak Parikesit menjadi raja, banyak serangan dari luar yang mencoba nenaklukan kerajaan Astina. Untung Astina memiliki Suryakaca, Danurwenda dan, Sanga-sanga serta tokoh tokoh putera putra uwa Utara dan Wratsangka, yang semuanya bisa diandalkan.

Sementara itu, Sritanjung, yang berangkat ke Astina, di tengah perjalanan bertemu dengan pasukan raksasa goa Barong, Ia dijadikan sandera oleh pasukan Goa Barong, untuk menyerang Astina. Sesampai di Astina terjadilah peperangan. Pasukan Astina mati matian mempertahankan negerinya. Untungkah pertempuran apat dihentikan setelah raja Goa Barong tewas oleh Sidapaksa, sedangkan Dewi Sritanjung terselamatkan dari tangan Pasukan Goa Barong.

Setelah mereka dapat bertemu, keduanya pergi kerumah eyang Sritanjung yang juga merupakan eyang Sidapaksa, karena ibu Srutanjung dan Sidapaksa adalah kakak beradik, Dewi Srengganawati ibu Sritanjung dan ibu Srengginiwati ibu Sidapaksa, yang kedua duanya putera Eyang Badawanganala. Hubungan mereka direstui, dan mereka pun dinikahkan, Setelah beberapa hari tinggal di rumah eyangnya, keduanya berpamitan untuk mencari pekerjaan di negeri Sinduraja,

Sinduraja, adalah sebuah kerajaan kecil, namun makmur, Sedangkan raja yang bertahta adalah Prabu Silakrama (baca Silah krama). Setelah sampai ke istana Sinduraja, keduanya tanpa kesulitan diterima dengan senang hati, Bahkan mereka di berikan sebuah puri yang terlepas dari istana. Senang keduanya menerima fasilitas itu. Sidapaksa juga dijanjikan aaaaakan diangkat menjadi patih Kerajaan Sinduraja, Apakah memang demikian  isi hati sebenarnya sang Prabu kepada keduanya. Tidak. Itu hanya unyuk mengelabuhi keduanya, atau khususnya Sidapaksa, Sang Prabu sebenarnya ingin Sidapaksa nati, sehingga ia dapat mengawini Sritanjung.

Sampai pada suatu hari, sang prabu, memerintahkan Sidapaksa pergi ke perbatasan untuk menumpas pemberontakan. Raja ternyata telah menyiapkan jebakan untuk kematian Sidapaksa.  Ia dibekali sebuah surat ke negeri adiknya, Ratu Selokadomas. Sebelumnya Prabu Silakrama, pernah memberitahu pada adiknya,agar Sidapaksa, akan disuruh ketempat adiknya, dan meminta agar nanti Sidapaksa, pembawa surat ini langsung di bunuh saja.

Untunglah Sidapaksa singgah di padepokan kakak eyang Badawanganala, yaitu kakak perempuan eyang Badawanganala, bernama  eyang Badawangsih, yang tinggal di padepokan Jambesinigar Eyang ini curiga pada bawaan Sidapaksa. Sehingga ketika Sidapaksa sudah tertidur, Eyang Badawangsih membuka bawaan Sidapaksa. Ia menemukan sepucuk surat yang mencurigakan. Yang ternyata ada surat raja Sinduraja, maka  diambilnya. Kemudian diterawangnya, Tanpa membuka sampul surat,  eyang Badawangsih, bisa membaca surat itu, yang isinya, agar adik perempuannya, yang bernama dewi Salokadomas, ditugaskan untuk membunuh sidapaksa, Eyang pertapa itupun, bersemadi. Dengan kesaktiannya sang pertapa bisa nerubah isi surat tersebut, tanpa membuka sampul surat. Keesokan harinya berangkatlah Sidapaksa kenegeri Cemarakembar, menemui ratu Salokadomas, adik Prabu Silakrama.Sesampai diistana adik Pabu Silakra ma,yaitu Salokadomas  ketika melihat tamunya,merasa  bergairah melihat ketampanan Sidapaksa. Namun maksud tujuan kakanya menyuruh ketempatnya, sudah tahu sebelumnya ia diberitahu tentang rencana pembunuhan itu. Ia  menyayangkan  pria tampan itu, mengapa harus dibunuh.

Rencananya ia akan menunda pembunuhan ini. Salokadomas sementara ini tidak akan membunuhnya dulu, ia ingin bersenang senang dulu dengan Sidapaksa barang dua tiga hari, baru setelah itu dibunuhnya. Pembunuhan direncanakan  dengan memasukkan racun di jamuan makannya.

Sidapaksa memberikan surat Prabu Silakrama, kepada dewi Salokadomas. Betapa terkejut Ratu Salokadomas ketika membaca isi surat itu. Ternyata isi suratnya lain dari perkiraannya. Mengapa justru surat itu memerintahkan  agar adiknya mengambilkan pusaka Prabu Silakrama yang sudah lama dititipkannya, padahal  pusaka itu merupakan pusaka  yang menentukan hidup matinya Prabu Silakrama..

Adiknya jadi ragu jangan jangan surat itu palsu. Namun setelah melihat huruf demi hurufnya, yakinlah kalau surat ini asli tulisan kakaknya, lagi pula ada cap cincin stempel kerajaan. Karena ia sudah percaya sutat itu asli, maka isi surat kakaknya, Prabu Silakrama, segera dipenuhi. Dewi Salokadokas juga lupa rencananya berbuat mesum pada Sidapaksa.

Pusaka keris Nagaraja diberikannya pada Sidapaksa.

Sementara itu di puri kediaman Sritanjung dan Sidapaksa, dewi Sritanjung kedatangan prabu Silakrama.

Silakrama minta agar Sritanjung nelayani hasrat hawa nafsu prabu Silakrama yang sudah memuncak, Sritanjung tidak menanggapi, malah lari masuk dalam ruang kerja Sidapaksa dan menguncinya.

Prabu Silakrama kecewa dengan kegagalannya. Ia mengancam,akan memberi tahu Sidapaksa suaminya. Ia akan berkata kalau Sritanjung berbuat nista, dengan menangis nangis minta agar dirinya, Prabu Silakrama melayaninya, karena Sritanjung tak puas dengan suaminya,

Sritanjung tidak takut ancaman rajanya, ia bertekad lebih baik mempertahankan kesucian dirinya pada suaminya. Kalau memang dewa menentukan garis kematiannya ia siap menghadapinya,

Prabu Silakrama masygul hatinya, ia ternyata ketakutan juga kalau perbuatannya diketahui Sidapaksa.

Maka ia memerintahkan, agar disetiap penjuru jalan menuju puri Sidapaksa dijaga. Jangan sampai SIdapaksa pulang ke puri, nanti kedahuluan istrinya memberi tahu apa yang baru terjadi. Betul juga, Sidapaksa ditemukan sedang menuju ke purinya. Seorang prajurit mendatangi dan pergi membawanya menghadap raja. Sidapaksa bertanya dalam hatinya ada apa gerangan yang terjadi, mengapa ia dicegat dijalan.

Sesampai menghadap raja, Sidapaksa diberi tahu mengenai istrinya, Sritanjung, yang nagis nangis datang ke istana, agar dilayaninya. Karena menurut dewi Srutanjung Sidapaksa seorang laki laki tetapi tidak bisa memuaskan istrinya. 

Mendengar itu SIdapaksa bagai tersambar geledeg,menjadi marah. ia merasa dihina oleh Sritanjung.Oleh karena itu Prabu Silakrama memberikan keris ligan. Keris ligan adalah keris yang dikeluarkan dari wrangka nya kepada Sidapaksa.

Raja memberikan keris ligan, maksudnya supaya  Sidapaksa membunuh Sritanjung. Sidapaksa bagaikan kerbau dicotok hidung, membawa keris ligan ke puri untuk menjumpai istrinya.


Sesampai di puri, Sidapaksa tidak terlihat istrinya. Sidapaksa mulai berteriak teriak. Mendengar suara suaminya. Sritanjung segera keluar dari kamar persembunyiannya. Sidapaksa langsung menyeret istrinya keluar dari kamarnya. Sidapaksa menuduh kalau Sritanjung telah berselingkuh dengan prabu Silakrama.

Sritanjung merncoba menerangkan apa  yang telah terjadi sebenarnya. Namun Sidapaksa sudah tidak mau mendengar suara istrinya. Ia lebih percaya omongan rajanya daripada istrinya sendiri. Akhirnya istri rela di bunuh oleh suaminya. Namun tidak di puri. Ia ingin mati disungai. Sesampai di tepi sungai, Sritanjung berkata ia telah mempertahankan kesucian pada suaninya, tetepi suaminya tidak  mau percaya.bahkan mau membunuh nya.

Namun sebelumnya  ia akan mebuktikan bahwa ia tidak bersalah. Andaikata ia nanti dibunuh akan mengeluarkan bau yang wangi pertanda ia tak salah. Tetapi kalau amis, maka ia yang salah. Sidapaksa bagaikan orang yang sudah gila tertawa terbahak bahak, katanya tidak mungkin  ada darah bisa wangi, palimg bacin amis. dengan tidak menunggu lama lama, Sidapaksa menghunjamkan keris ligan pemberian rajanya kedada istrinya. tubuh istrinya jatuh kedalam sungai, dan terbawa hanyut terbawa arus sungai yang bening airnya. Air tempat jatuhnya tubuh istrinya, menjadi memerah. Sidapaksa terkejut ketila ia mencium bau yang semerbak mewangi. Sidapaksa akhirnya tahulah, kalau Sitanjung tidak bersalah, sayang sudah terlambat, ia seorang suami yang jahat, tidak bisa melindungi istrinya, malahan ia tega membunuhnya. Ia mennangisi istrinya sepanjang siang dan malam.Keesokan harinya, Sidapaksa kembali ke istana raja. Ia menghadap raja Silakrama.

Sidapaksa menyerahkan kembali kepada rajanya, keris ligan yang diberikan kemarin, tetapi bukan diberikan ketangan rajanya, keris itu ditusukkan kedada Prabu Silakrama. Prabu Silakrama tewas. Namun setelah jatuh menyentuh tanah, ia hidup lagi. Prabu Slakrama pun hidup lagi, kini ia ganti menyerang  Sidapasksa. Sidapaksa keluar istana, rajanya pun mengejarnya. Terjadilah perkelahian hebat antara keduanya. Berkali kali raja tewas tapi kemudian hidup lagi.
Sidapaksa menjadi demetar ketika musuhnya sangat sakti. Tiba tiba iangat keris pemberian Ratu Selokadomas.

Segera pusaka diambil. Di acungkannya ke hadapan Prabu Silakrama. melihat keris itu ada ditangan Sidapaksa, Silakrama tampak ketakutan melihat itu, ia meminta Sidapeksa  mengembalikan keris itu kepadanya.

Maka terjadilah perebutan pusaka, namun Silakrama  tewas, tertikam keris. Tubuhnya  menjadi hangus terbakar dan musnah.

Kembali Sidapaksa menyesali dirinya yang tega membunuh istri yang setia pada suami.  Dewi Sritanjung istri paling setia. Ia mau mempertahankan kesucian nya demi kesetiaan pada suaminya. Namun mengapa ia malah membunuh nya. Kini  Ia bingung mau pergi kemanakah ia kemanakah ia akan pergi, kembali ke Bumiretawu tempat ibunda Sidapaksa,takut ibunya pingsan,  Atau ke Pertapaan Gisiksamodra tempat eyang badawanganala. Pasti mereka akan menanyakan kemana Sritanjung.

Akhirnya sidapaksa ke istana Astina menemui prabu Parikesit. Ternyata Prabu Parikesit juga menanyakan kemana perginya bibi Sritanjung. Sidapaksa terpaksa menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka.

Tiba tiba saja, Parikesit meminta pamannya Sidapaksa, malam itu juga pergi dari Astina. Pamanda Sidapaksa  akan diterima kembali asalkan  bisa membawa bibi Sritanjung ke Astina dalam keadaan hidup.

Dengan ke putus asaan yang luar biasa, pergilah pamanda Sidapaksa entah kemana. Ia sendiri tidak tahu kemana  harus pergi. Para pembaca apa sebaiknya cerrita ini sampai disini, dengan keputus asaan dan penyesalan Sidapaksa, atau diteruskan lagi, agar Sidapaksa berkesempatan hidup bersama lagi dengan istrinya, Sritanjung,***


Sebenarnya masih ada beberapa wanita lain yang memberikan pengorbanan dan kesetyaan pada suami,seperti:

Dewi Sinta yang membakar diri, demi suami tercinta, namun suami juga belum  percaya atas kesucian dirinya,dan diulang dengan sumpah bumi, bumi akan menelannya kalau  dirinya masih suci, dan bumi pun menerima sumpah Dewi Sinta.Dewi Sunta pun ditelan bumi. Dewi Pujawati, Dewi Surtikanti dan juga Dewi Madrim, Dewi Siti Sendari serta wanita wanita yang lain yang rela berkorban demi kesetiaaan mereka pada para suaminya, dengan membakar diri di  dalam kobaran api yang sedang membakar jasad suaminya. Sedangkan dewi Arimbi membakar diri ketika puteranya, Raden Gatutkaca serta adik adik Dewi Arimbi tewas dalam perang Baratayudha..

Palgunadi dan Dewi Anggraeni



 Anggraeni gaya Surakarta

Dewi Anggraeni sejak kecil adalah teman bermain Aswatama. Arjuna sering melihat Anggraeni, kalau di Padepokan Sokalima menyelenggarakan pendadaran para satria Pandawa dan Kurawa. Arjuna sebenarnya tertarik akan kecantikan Anggraeni.. Dewi Anggraeni, adalah puteri Prabu Hiranyadanu dari negeri Nisada.

Namun mereka masih terlalu kecil untuk bercinta. Setelah itu Anggraeni tidak ada beritanya, dan tahu tahu tiga sampai empat tahun berikutnya, terpetik berita Anggraeni telah melangsungkan perkawinannya dengan Prabu Palgunadi, Raja Paranggelung. Aswatama sebagai teman kecilnya merasa ikut bahagia, dengan kabar itu. Rupanya Aswatama dalam bersahabat dengan Anggraeni tidak ada beban perasaan apa apa, karena Aswatama telah menganggap Anggraeni sebagai adiknya sendiri.Lain dengan Arjuna, kabar itu menjadikan Arjuna terkejut dan kecewa karena ia kedahuluan Prabu Palgunadi menjadikan Anggraeni istrinya. Arjuna mmenjadi dendam dengan Prabu Palgunadi. Ia bahkan ingin mencoba kesaktian Palgunadi.

Sebenarnya dalam kanuragan panah memanah Arjuna masih mempunyai seorang pesaing lagi, yaitu Prabu Palgunadi, yang mahir dalam memanah. Walaupun ia tidak berguru pada Pandita Durna, namun cara memanahnya betul betul sangat akurat. Arjuna baru saja mengetahui, bahwa Palgunadi juga seorang kesatria pemanah yang hebat.Kini Arjuna merasa tersaingi. Arjuna ingin sekali bertemu Palgunadi, untuk mencoba kepandaian memanah Palgunadi.

Suatu hari Arjuna mendengan kabar, bahwa Prabu Palgunadi akan pergi ke Sokalima untuk meningkatkan kemahiran ilmu memanahnya, maka ia berguru pada Pandita Durna. Arjuna merasa cemburu pada Palgunadi. Jangan jangan nanti guru Durna lebih menyayangi Palgunadi.

Dalam perjalanan Arjuna ke Sokalima, Arjuna ingin bertemu bertemu dengan Dewi Anggraini.Arjuna sangat kecewa sekali, ketika melihat kereta kerajaan Paranggelung, hanya terdapat Palgunadi seorang diri. Rupanya Prabu Palgunadi berangkat seorang diri tanpa didampingi istrinya, Dewi Anggraeni,

Beberapa hari kemudian terdengar berita, Dewi Anggraeni juga mau pergi ke Sokalima, menyusul suaminya. Dewi Anggraeni bermaksud  pergi ke Sokalima. Dewi Anggraeni berangkat dari negerinya Paranggelung dengan kereta kerajaan, dengan pengawalan  beberapa perajurit.

Arjuna yang sejak lama menghadang kedatangan Dewi Anggraeni, nampak terpesona melihat kecantikan Dewi Anggraeni, menjadikan Arjuna jatuh cinta pada Dewi Anggraeni.Arjuna meminta Anggraeni menghentikan keretanya. Anggraeni ragu pada Arjuna, apakah ada maksud memberitahu ada bahaya di jalan apa hanya akan mengganggu perjalanannnya.Ternyata Arjuna meminta Anggraeni meninggalkan suaminya dan lebih baik menerima cinta Arjuna. Dewi Anggraeni tidak menanggapi cinta Arjuna. Anggraeni meminta Arjuna pergi dari hadapannya, namun Arjuna tidak mau menghentikan godaannya, Anggraei tidak kuasa lagi mengendalikan kermarahannya, Anggraenipun berteriak minta tolomg. Melihat Arjuna seperti memaksakan kehendak pada Dewi Anggraeni, Aswatama, putera Pandita Durna, yang kebetulan lewat disitu, segera membelokkan kuda yang ditumpanginya, kembali kearah kereta Paranggelung. Kemudian menyerang Arjuna. Arjuna menjadi marah dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Aswatama meminta agar kereta Dewi Anggraeni segera meninggalkan tempat,  Dewi Anggraeni memerintahkan para pengawalnya agar  mempercepat perjalanannya. Dewi Anggraeni pun akhirnya sampai di Sokalima. Aswatama hanya dalam ukuran menit, dapat dikalahkan oleh Arjuna. Sementara itu Arjuna sampai pula di Sokalima.Dewi Anggraeni melaporkan kejadian yang baru dialami pada Prabu Palgunadi, suaminya. Ia tak kuasa membendung rasa kesedihannya, iapun menangis dipangkuan suaminya.

Prabu Palgunadi ketika itu sedang menghadap Pandita Durna untuk minta belajar memanah. Namun Pandita Durna. belum memberikan kesanggupannya.Mendengar laporan istrinya, Prabu Palgunadi menjadi marah. Sementara itu Arjunapun sudah sampai di padepokan Sokalima, Arjuna berkilah, bahwa ia tidak setega itu untuk melakukan perbuatan itu, Aswatama pun datang memberi kesaksian, bahwa apa yang dikatakan oleh Dewi Anggraeni itu benar adanya.   Arjuna menyangkal kesaksian Aswatama. Ia tidak akan berbuat seperti yang dituduhkan Aswatama. Ia tidak berbuat seperti apa yang dituduhkan Aswatama. Ia hanya kangen dengan kawan lama.    

Prabu Palgunadi tidak percaya dengan kata kata Arjuna, Palgunadi lebih percaya kepada istrinya dan kesaksian Aswatama, Prabu Palgunadi menjadi sangat marah. Prabu Palgunadi menghajar  Arjuna. Terjadilah perkelahian hebat antara Arjuna dan Palgunadi. Mereka segera keluar dari padepokan, dan berkelahi dihalaman padepokan. Mereka saling adu memanah. Keduanya sangat mahir memanah. Serangan panah Arjuna yang paling hebatpun dapat dipatahkan oleh Palgunadi. Arjuna semakin marah, Arjuna membabi buta dengan panah panahnya. Namun semua panah Arjuna dapat dikembalikan oleh Palgunadi. Arjuna kelihatannya kewalahan menghadapi Palgunadi, maka Arjuna yang juga bernama Palguna menanggalkan panahnya. Arjuna menyerang dengan tangan kosong. Palgunadi pun melayani serangan Arjuna. Kini mereka bertarung tanpa senjata.

Kekuatan mereka begitu seimbang. Tiba tiba saja Arjuna berlaku curang, ia menangkap dan berusaha merebut cincin Mustika Ampal yang dipakai pada ibu jari tangan kanan Prabu Palgunadi.Namun cincin pada  ibu jari nya telah menyatu menjadi satu, sehingga ketika cincin itu dicabut dengan paksa, maka ibu jari Prabu Palgunadi ikut terlepas dari tangan kanan Palgunadi.  Tanpa diduga sebelumnya, Prabu Palgunadi  tewas seketika. Rupanya cincin Mustika Ampal ini, hidup matinya Prabu Palgunadi. Ibu jari bercincin Mustika Ampal Prabu Palgunadi yang terambil oleh Arjuna, tiba tiba lengket dan menyatu dengan jari jari Arjuna, sehingga Arjuna tangan kanannya memiliki enam jari.

Melihat kematian suaminya, Anggraeni lari menghampiri  dan merangkul tubuh suaminya, Prabu Palgunadi. Namun suaminya telah tewas. Ketika ia mencoba membangunkan suaminya, tiba tiba bahu Anggraeni ada yang menyentuhnya, setelah dilihat nampak senyum Arjuna yang mencoba menghibur Anggraeni.  Anggraeni hancur hatinya, dan Anggraenipun melarikan diri meninggalkan Arjuna,

Aswatama mencoba melindungi Dewi Anggraeni dari kejaran Arjuna. Tetapi Aswatama dengan mudah dapat dikalahkan Arjuna. Pandita Durna meminta Arjuna agar sadar atas perbuatannya, namun Arjuna seolah olah tidak mendengar kata kata Gurunya.

Dengan kematian Prabu Palgunadi Arjuna merasa  mendapatkan  kesempatan untuk mempersunting Dewi Anggraeni menjadi istrinya. Arjuna terus mengejar Dewi Anggraeni. Langkah kaki Dewi Anggraeni terhenti, ketika didepannya sudah tidak ada  jalan yang akan dilewati,  yang ada didepannya nampak berupa jurang dan sudah tidak ada jalan lain. Sedangkan Arjuna semakin mendekatinya. Akhirnya hanya ada satu pilihan, Dewi Anggraeni terjun kedalam jurang yang dalam. Dewi Anggraeni pun tewas.

Sukma Dewi Anggraeni pun sampai di Kahyangan Jonggringsaloka. Ia disambut sukma Prabu Palgunadi. Mereka berdua memasuki Swargaloka. Sedangkan Arjuna terus mengejar sukma Dewi Anggraeni yang akan memasuki Kahyangan Jonggringsaloka.

Sementara itu Batara Narada merasa heran,ketika Arjuna datang menemuinya dan minta agar Dewi Anggraeni dikembalikan pada Arjuna. Arjuna ingin menikahinya, karena Arjuna sangat mencintainya. Batara Narada sebenarnya keberatan. tetapi untuk mengelabuhi Arjuna, maka diciptakannya Dewi Anggraeni dari daun Tunjung.

Arjuna dan Anggraeni


Arjuna merasa bahagia bisa bersanding dengan Dewi Anggraeni. Mereka berdua turun ke marcapada. Namun sesampai di Arcapada Dewi Anggraeni berubah menjadi daun tunjung. Arjuna menjadi marah, ia ingin kembali ke Kahyangan.  Tiba tiba datang Prabu Kresna mencegah  keinginan Arjuna, untuk kembali ke Kahyangan.
Prabu Kresna mengingatkan kalau semua yang terjadi ini sudah kehendak dewata
***

ANGGRAINI, DEWI, oleh para penggemar wayang di Indonesia sering digunakan sebagai lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya. Wanita cantik itu adalah permaisuri Bambang Ekalaya alias Palgunadi, raja negeri Nisada atau Kerajaan Paranggelung. Dewi Anggraini memilih mati daripada mengkhianati cintanya pada suami.Suatu ketika Anggraini bertemu dengan Arjuna. Walaupun telah diberi tahu bahwa Anggraini sudah bersuami, Arjuna, yang merasa dirinya tampan dan sakti, dengan berbagai cara tetap berusaha merayunya. Setelah rayuannya gagal, Arjuna mencoba hendak memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan. Namun Dewi Anggraini memilih mati bunuh diri. Karena peristiwa ini Prabu Ekalaya marah. Ia menuntut agar Arjuna melayaninya berperang tanding. Alkirnya, dengan tipu daya Kresna yang membantu Arjuna, Ekalaya pun mati menyusul istrinya.Jalan cerita mengenai kematian Ekalaya atau Palgunadi dan Dewi Anggraini, dalam pewayangan agak berbeda. Ketika Arjuna hampir berhasil memaksakan kehendaknya pada Dewi Anggraini, Aswatama memergokinya. Putra Begawan Drona itu berhasil mencegah perbuatan nista yang akan dilakukan Arjuna pada Anggraini. Terjadilah perkelahian.

Palgunadi dan Anggraeni

Kesempatan itu digunakan Anggraini untuk lari pulang ke Kerajaan Paranggelung. Segera Anggraini mengadukan peristiwa itu pada suaminya. Namun Palgunadi tidak percaya. Ia tidak yakin Arjuna yang dikenalnya sebagai ksatria berbudi luhur mau berlaku senista itu. Prabu Palgunadi bahkan mencurigai istrinya sengaja hendak mengadu dia dengan Arjuna, dan bila ia mati terbunuh, Anggraini akan mempunyai kesempatan menjadi istri Arjuna.
Dewi Anggraini berusaha keras meyakinkan suaminya bahwa ia berkata yang sebenarnya, namun Palgunadi tetap tidak man percaya. Kecurigaan Palgunadi pada istrinya dapat dihilangkan setelah Aswatama datang memberikan kesaksian akan kebenaran laporan Dewi Anggraini.
Sesudah yakin istrinya berada di pihak yang benar, Prabu Palgunadi dengan kemarahan yang meluap segera berangkat ke Kasatrian Madukara, tempat tinggal Arjuna, untuk menyelesaikan soal itu sebagai secara laki-laki. Dalam perang tanding di antara keduanya, Palgunadi gugur. Mendengar berita kematian suaminya, Dewi Anggraini bunuh diri.

***

Dalam Mahabharata, Anggraini adalah nama istri Prabu Ekalawya alias Palgunadi, Raja Paranggelung. Ia berwajah cantik karena merupakan seorang puteri apsari (bidadari) Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai sifat setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami.
Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalawya dengan Arjuna akibat dari perbuatan Arjuna yang mengganggu dirinya, Prabu Ekalawya mati dibunuh Resi Drona dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal.
Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan dirinya sendiri. Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain, namun Dewi Anggraini tetap teguh cinta kesetianya kepada suaminya. Sebagai wujud cintanya Arjuna kepada Dewi Angraini, maka Raden Arjuna kemudian memakai nama Palgunadi sebagai nama lainnya atau disebut dasanama.

***

Hidup menjadi Indah
Ada perasaan menyesal menggelayut di dada Durna, ketika di pagi buta, pusaka Gandewa telah dibawa pergi oleh Harjuna. Walaupun langkah itu sudah digelar-digulung sebelumnya, toh kekecewaan masih juga menghampiri perasaannya. Ia membenarkan kata Aswatama, bahwa Harjuna tidak berhak atas pusaka Gandewa itu. Tetapi bagaimana lagi keputusan sudah dijalankan, dan pusaka telah dibawa Harjuna ke Panggombakan.
Perasaan bersalah kepada Aswatama itulah yang kemudian ingin ditebus dengan keinginannya untuk membahagiakan anak semata wayang. Melalui ketajaman naluri, Resi Durna mampu melihat bahwasanya semenjak kedatangan Ekalaya dan Anggraeni, Aswatama senantiasa memperlihatkan keceriaannya. Ekalaya, raja besar yang mewarisi kerajaan ayahnya, Prabu Hiranyadanu dari negeri Nisada, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Paranggelung. Melihat sikap Astatama, Sang Resi harus berpikir seribu kali untuk menolak Ekalaya. Karena jika hal itu dilakukan, tentunya Ekalaya dan Anggraeni segera angkat kaki dari bumi Sokalima. Akibatnya, Aswatama akan bersedih dan kecewa. Maka mau tidak mau, demi kebahagiaan anaknya, Durna harus menahan Ekalaya, khususnya Anggraeni, agar Aswatama tidak terpukul hatinya untuk yang ke dua kali.
Sang Resi sendiri mengakui bahwa Raja Paranggelung serta prameswarinya itu merupakan pasangan yang sempurna. Keduanya tampan dan cantik jelita, ramah, santun, rendah hati dan sangat menghormati sesamanya. Sehingga setiap orang yang berjumpa dan berbincang-bincang dengan mereka akan merasa berharga sebagai manusia.
Malam itu Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama memenuhi panggilan Sang Resi datang di pendapa induk padepokan. Sembah yang diberikan Ekalaya membuat Durna layak untuk berbesar hati. Lebih-lebih prameswarinya, Anggraeni, yang santun dan selalu memperlihatkan senyumnya, akan membuat siapa saja enggan meninggalkan sapaan lembut yang menyejukkan sanubari.
“Ekalaya, walaupun dalam pengamatanku engkau sudah menampakan kesungguhan berguru kepadaku, untuk saat ini aku belum akan mengangkatmu sebagai murid. Namun jangan berkecil hati, engkau aku beri kesempatan belajar pengetahuan tentang ilmu yang aku ajarkan kepada murid-muridku di Sokalima.”
Bagi Ekalaya, kesempatan yang diberikan oleh Pandita Durna sudah lebih dari cukup. Oleh karenanya Ekalaya berjanji ingin menggunakan kesempatan berharga tersebut dengan sebaik-baiknya.
Sejak awal, Ekalaya yang juga bernama Palgunadi, datang ke Sokalima untuk memperdalam ilmu memanah. Karena bagi Ekalaya, raja Nisada atau Paranggelung, ilmu dan ketrampilan memanah merupakan pelajaran wajib bagi seluruh rakyat di negeri itu. Maka ketika mendengar bahwa di Sokalima diajarkan ilmu memanah tingkat tinggi, Ekalaya berkeinginan memperdalam ilmu memanah kepada Resi Durna, Guru Besar di padepokan Sokalima.
Waktu berjalan cepat, tak terasa sudah hampir setahun Ekalaya belajar kepada Pandita Durna. Tidak peduli dengan predikat murid yang belum didapat, Ekalaya telah menyerap pengetahuan ilmu-ilmu Sokalima, termasuk ilmu memanah. Namun ilmu saja belum cukup, oleh karenanya Ekalaya ingin mempraktekkan ilmu yang didapat dari Pandita Durna, terutama ilmu memanah.
Suatu malam Ekalaya bermimpi sedang belajar memanah di sebuah taman asri di tengah hutan. Di sudut taman terdapat patung Pandita Durna yang sedang tersenyum, seakan-akan bangga melihat kemampuan muridnya. Bagi Ekalaya, belajar memanah di depan patung Pandita Durna tersebut terasa mendapat energi yang luar biasa sehingga dapat menggugah jiwa dan mengobarkan semangat dalam belajar.
Sejak mimpi itu, Ekalaya berkeinginan membuat tempat latihan seperti pada gambaran mimpinya tersebut. Dewi Anggraeni, sebagai isteri setia, menyetujui niat suaminya. Aswatama dengan penuh kebaikan melayani segala sesuatu yang dibutuhkan demi kelancaran Ekalaya dalam menuntut ilmu. Sehingga bagi Ekalaya dan Anggraeni, Aswatama mendapat tempat khusus di hati keduanya karena jasa-jasanya.
Pernah terlintas dibenak Ekalaya dan Anggraeni, kelak jika tugasnya di Sokalima telah selesai, mereka berkeinginan memboyong Aswatama ke Paranggelung untuk diberi kedudukan tinggi sebagai sahabat raja.
Waktu satu tahun selama perjumpaannya dengan Ekalaya dan Anggraeni khususnya, telah mampu menggeser semua sejarah hidup Aswatama yang sudah hampir mendekati 30 tahun. Hidup lama telah diganti hidup baru. Bagi Aswatama, pasangan Ekalaya dan Anggraeni telah mampu mengubah hidupnya secara luar biasa. Aswatama yang semula merasa lebih rendah atau tidak lebih berharga dibandingkan dengan para ksatria Pandhawa, ternyata ia sangat berharga di mata raja besar Paranggelung beserta prameswarinya. Jika selama ini Aswatama tidak percaya diri akan kemampuannya di hadapan orang tuanya, kini mulai menemukan banyak kelebihan dihadapan sang Raja sakti dari negara Nisada. Sungguh ajaib, perjumpaannya dengan Ekalaya dan Anggraeni yang penuh kasih dan rendah hati, membuat hidup Aswatama indah berseri bagai pelangi.
Keindahan malam itu, malam bulan purnama, menjadi semakin indah ketika dari bibir nan lembut indah, mengalun suara kidungan yang merdu menyusup kalbu.
“Anggraeni-Anggraeni, engkau manusia nan sempurna Karena kesempurnaanmu sebagai manusia, engkau bak bidadari yang turun ke dunia. Seperti ia kah ibuku Bidadari Wilutama?
Ibu, ibu, aku rindu padamu.”
Herjaka HS


***


Satiawan dan Sawitri

Sawitri gaya Surakarta

ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ


Di Negeri Madras, yang kemudian kita kenal dengan negara Mandaraka, bertahtalah seorang raja yang bernama Aswapati, mempunyai seorang puteri bernama Sawitri.
Sang Baginda raja, merasa gundah hati, karena melihat puterinya, yang sudah beranjak dewasa, balum juga ada seorang pria datang untuk berkenalan atau bahkan datang untuk melamarnya.
Raja akhirnya memerintahkan Dewi Sawitri untuk meninggalkan istana, dan mencari pria pujaan hatinya.
Sebenarnya Dewi Sawitri sudah menemukan pria idamannya, lewat impian.
Perjalanan Sawitri akhirnya memasuki hutan.
Di hutan itu, Sawitri menemukan seorang pria tampan sedang bersemadi.
Sawitri merasa kalau pria itu seperti yang ditemuinya dalam impiannya.
Sawitri menunggui dengan setia.
Disiapkannya makanan berupa buah buahan yang masih segar yang dipetiknya dari berbagai tempat di sekeliling tempat Satyawan bersemedi.
Beberapa saat kemudian, Satyawan terbangun dari semadi nya.
Ia melihat Sawitri seorang gadis cantik, Satyawan menatap gadis itu beberapa saat, kelihatannya ia jatuh cinta pada Sawitri.
Kemudian keduanya saling berkenalan, mereka kelihatan akrab.
Akhirnya mereka saling menyatakan cintanya.
Satyawan adalah putera  raja Salwa.
Ayahandanya terusir dari istana dan negaranya sendiri, karena kalah dalam judi, yang mengharuskan hukuman buang selama 13 tahun, seperti yang akan dialami Pandawa beberapa generasi kemudian.
Di dalam pengembaraannya, sampai di hutan itu, dan Prabu Jumatsena ayahanda Satyawan setelah mengalami peristiwa itu, menjadikan penyesalan yang tak habis habisnya memangisi nasibnya, sampai Prabu Jumatsena mengalami kebutaan.
Kini ayahnya pun tinggal bersama Satyawan dalam sebuah goa.
Setelah beberapa hari tinggal didalam goa bersama Satyawan dan ayahnya, Sawitri berpamitan dan berjanji akan menemuinya lagi untuk dua tiga hari mendatang.
Sawitri kembali ke negeri Madras menghadap ayahanda nya prabu Aswapati. 

Mendengar cerita Sawitri, ayahandanya Prabu Aswapati, merasa bahagia.
Ia senang akan berbesan dengan Prabu Jumatsena.
Tiba tiba saja, datang Batara Narada turun ke marcapada, untuk menemui Prabu Aswapati dan puterinya, Dewi Sawitri. Batara Narada membawa berita, kalau Satyawan umurnya tinggal setahun,dan memintanya agar membatalkan rencana perkawinan Sawitri dan Satyawan.
Namun Sawitri cintanya pada Satyawan telah mekar, dan setelah mendengar berita dari Batara Barada justru cintanya  menjadi lebih mendalam.
Karena cinta mereka berdua sudah tak tak terbendung lagi, maka oleh Prabu Aswapati, di gelarlah acara perkawinan puterinya, Sawitri, dengan pria pilihannya sendiri, Setyawan.
Sebenarnya Prabu Aswapati minta Satyawan dan ayahandanya tinggal di istana, namun Satyawan dan Ayahandanya bermaksud meneruskan tapanya di hutan.
Prabu Aswapati tidak bisa membendung keinginan Satyawan dan ayahandanya.
Mengingat suaminya akan kembali ke hutan,maka Sawitri pun berpamitan pada ayahnya, untuk mengikuti suaminya.
Raja Aswapati pun merestui puterinya, Sawitri mengikuti suaminya.


Sudah beberapa bulan ini Sawitri tinggal bersama dengan Satyawan.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini sudah memasuki sisa umur Satyawan yang tinggal beberapa hari lagi.
Sawitri selalu berdoa agar usia Satyawan dapat di perpanjang.
Tiba tiba datang seorang dewa dengan cahaya memerah, kulit hitam memerah, mata memerah dan juga berpakaian serba merah.
Nampak menggotong sukma seseorang.
Sawitri tidak sadar, kalau sukma yang dibawa adalah sukma suami Satyawan.
Terhenyak dari ketertegunannya, maka ia segera memeriksa suaminya, ia melihat Satyawan sudah terbaring  lemas tanpa bernapas.
Segera Sawitri menangkap dan menarik lengan baju sang dewa penyabut sukma, yaitu dewa Yamadipati, yang baru turun dari Kahyangan dan telah mengambil sukma suaminya.
Entah karena apa, Yamadipati tidak berdaya ketika Sawitri memegangi lengan bajunya.
Dewi Sawitri tanpa terasa bisa berjalan diangkasa mengikuti  kepergian Batara Yamadipati. pergi ke Kahyangan.
Batara Yamadipati minta agar Sawitri melepaskan baju Batara Yamadipati yang dipegang erat oleh Dewi Sawitri.
Perjalanan Sawitri mengikuti Batara Yamadipati sudah semakin jauh, mendekati alam kahyangan. Melihat situasi yang tidak nyaman.
Batara Yamadipati berjanji akan memberikan tiga permintaan kepada Sawitri, asal Sawitri tidak meminta nyawa Satyawan, dan setelah itu harus melepas pegangan baju Batara Yamadipati.
Dewi Sawitri semakin erat memegangi lengan baju Batara Yamadipati.
Sawitri akhirnya menerima pemberian tiga permintaan yang diberikan Batara Yamadipati.
Yang pertama Sawitri meminta agar ayah mertuanya, yaitu Prabu Jumatsena disembuhkan dari kebutaannya, permintaan yang kedua, minta agar  ayah mertuanya, dapat berkuasa kembali di negerinya lagi.
Yamadipati sudah memenuhi dua permintaan.
Tinggal satu permintaan lagi.
Sawitri minta setelah perkawinan dengan Satyawan, setahun yang lalu, ia belum dikurniai putera seorang pun, maka ia menginginkan mempunyai  putera sebanyak 100 orang putera dari Satyawan.
Tanpa berpikir panjang Batara Yamadipati mengiyakan permintaan Sawitri. Sawitri ragu, maka ia pun menanyakan apakah Batara Yamadipati tidak bohong.
Tentu saja Batara Yamadipati degan tegas bahwa semua dewa tidak ada yang berbohong pada manusia.
Sawitri akhirnya bicara, bahwa anak 100 yang akan didapat dari Satyawan, hanya bohong belaka, kalau Satyawan tidak diberikan kesempatan hidup lagi selama 100 tahun lagi.
Batara Yamadipati tertegun, ketika tahu kalau  tanpa sengaja ia memberikan sukma Satyawan kepada Sawitri.
Batara Yamadipati menjadi iba melihat kesetiaan Sawitri pada suaminya,  Satyawan.
Batara Yamadipati menjadi iba melihat kesetiaan Sawitri pada suaminya.
Akhirnya Batara Yamadipati dengan menggendong sukma Satyawan dan membimbing Sawitri kembali turun ke marcapada kembali ketempat Setyawan terbaring sebelumnya.
Sukma dikembalikan, dan Setyawan hidup kembali.
Peristiwa ini tidak pernah diceritakan kepada suaminya, sampai akhir hidupnya.
Karena Sawitri tidak menginginkan suaminya merasa berhutang nyawa dengannya.
Kini mereka hidup bahagia di istana Salwa bersama ayahandanya yang telah bisa melihat lagi, memerintah kembali negerinya dengan arif bijaksana.


Sawitri gaya Yogyakarta


ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ



Pada jaman dahulu kala di negeri Madra bertahtalah seorang raja bernama Prabu Aswapati yang berbudi luhur, adil dan bijaksana. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Sawitri yang cantik parasnya, laksana dewi Sri dari Kahyangan. Akan tetapi walaupun Sawitri mempunyai paras yang elok, tubuhnya yang indah menggiurkan, matanya seperti bunga saroja, namun Prabu Aswapati selalu bermuram durja, karena Dewi Sawitri yang sudah dewasa itu belum ada seorangpun yang meminangnya. Maka pada suatu hari Prabu Aswapati bersabda kepada putrinya: “Hai putriku Sawitri, waktu ini sudah saatnya kau harus bersuami. Tetapi karena sampai sekarang tak ada yang meminangmu, maka pilih dan carilah sendiri seorang sujana yang patut menjadi suamimu.”

Mendengar sabda ayahnya, Sawitripun segera bersujud dan pergi dengan tanpa berpikir lagi, karena malu atas perkataan ayahandanya itu. Dengan diiringi oleh beberapa pengawal berangkatlah Dewi Sawitri dengan kereta kencana memasuki hutan belantara menuju ke tempat pertapaan para Brahmana. Di tengah hutan tersebut Dewi Sawitri berjumpa dengan seorang pria yang tampan, Setiawan namanya. Ia putra dari seorang Brahmanaraja yang bernama Jumatsena. Brahmanaraja tersebut semula adalah seorang raja di negeri Syalwa, tetapi kemudian menjadi Brahmana karena cacat buta matanya, pada waktu
putranya masih kecil beliau cacat meninggalkan tahtanya yang telah dirampas oleh musuh. Setiawan yang dibesarkan di tengah hutan pertapaan itulah yang menjadi pilihan Dewi Sawitri.
Setelah seksama pengamatannya, kembalilah Dewi Sawtri menghadap ayahandanya dengan menceritakan pengalamannya. Tetapi betapa menyesalnya ketika mendengar sabda betara Narada yang saat itu berkunjung ke negeri Madra. “Aduhai raja Madra, putrimu ternyata kurang teliti memilih suami, walaupun Setiawan lurus dan luhur budinya, tetapi ia mempunyai cacat yang akan menghilangkan segala kebajikannya. Cacatnya itu hanya satu, yaitu “Setahun lagi Setiawan akan sampai pada ajalnya.”
Maka setelah mendengar sabda betara Narada itu raja Aswapati segera memerintahkan dewi Sawitri untuk memilih orang lain, agar kelak tidak menjadi janda. Tetapi apa jawab dewi Sawitri: “Duuh, ayahanda. Sekali patik memilih tidak akan lagi memilih orang lain, karena yang diputuskan oleh hati harus diucapkan dengan suara, kemudian dinyatakan dengan perbuatan, itulah pedoman hamba.”
Karena Sawitri tidak mau mengubah pendiriannya, maka Prabu Aswapati menyediakan peralatan perkawinan menurut adat. Dan dikawinkanlah Sawitri dengan Setiawan, sejak saat itu Sawitri diboyong ke hutan pertapaan. Sawitri selalu menyenangkan suaminya dengan perkataan manis dan kebaktian serta kesetiaannya yang luar biasa. Tetapi tubuh Sawitri makin hari makin susut karena siang malam selalu ingat akan perkataan yang disabdakan oleh betara Narada.
Hari berganti hari, maka sampailah hari yang keempat sebelum Setiawan meninggal, Sawitri telah berjanji akan berdiri tegak selama 3 hari 3 malam. Walaupun Brahmanaraja Jumat Sena telah meminta untuk mengubah janjinya namun Sawitri tetap dalam pendiriannya. Tepat pada hari Setiawan akan menemui ajalnya, pagi – pagi Dewi Sawitri menghampiri suaminya dan berkata, “Janganlah kakanda hari ini pergi seorang diri ke hutan karena adinda tak kuasa bercerai dengan kakanda. Perkenankanlah hamba bersama kakanda pergi ke hutan mencari kayu.” Ujar Setiawan sambil mendelik, “Hai adinda, kau belum pernah menempuh hutan selebat itu, bagaimana adinda dapat berjalan? Padahal adinda terlalu lemah akibat terus berpuasa dan bertapa.”
Jawab Dewi Sawitri, “Hamba tidak lelah oleh puasa dan apa yang telah hamba putuskan harus hamba kerjakan.” Brahmaraja Jumat Sena dan Setiawan setelah mendengar ucapa Dewi Sawitri itu terpaksa mengabulkan permintaannya, karena selama berada di pertapaan Dewi Sawitri belum pernah mengajukan sesuatu permintaan. Maka berjalanlah Dewi Sawitri di belakang suaminya dengan rasa pilu dan teriris – iris sambil menantikan saat yang telah ditetapkannya itu. Setelah mengumpulkan buah – buahan di keranjangnya, maka mulailah Setiawan membelah kayu. Tetapi tiba – tiba keluarlah peluh yang membasahi tubuhnya dan menyebabkan terasa sakit di kepalanya.
Dengan sempoyongan Setiawan menghampiri Dewi Sawitri sambil berkata, “Adinda, kepala kakanda bagai ditikm lembing rasanya, sehingga kakanda tak kuasa berdiri, biarlah kakanda tidur sejenak.” Maka Dewi Sawitri menghampiri suaminya, kemudian duduk bersimpuh di tanah. Kepala Setiawan diletakkannya di haribaannya. Lalu ia teringat akan sabda batara Narada, serta sadar bahwa inilah saat ajal Setiawan jam dan harinya telah tiba. Pada saat itu juga datanglah seorang yang bermahkota merah, matanya merah, seram sikapnya dengan sebuah jerat di tangannya, sungguh – sungguh menakutkan ujudnya. Ia adalah batara Yama dan berdiri di sisi Setiawan.
Kemudian ia berkata, “Hai Sawitri, suamimu hidupnya telah habis.” Dan barata Yama pun berjalan pergi dengan menjerat serta membawa nyawa Setiawan. Dewi Sawitri, istri yang setia yang telah memenuhi
janji itu dengan rasa pilu mengikuti batara Yama. Maka sabda batara Yama, “Kembalilah hai Sawitri, berbuatlah untuk merawat mayat suamimu, kau telah memenuhi segala kewajiban terhadap suamimu.” Jawab Sawitri, “Ke mana junjungan patik dibawa, ke situlah patik pergi.
Oleh karena itu janganlah ditolak perjalanan patik.” “Perkataanmu sungguh tinggi artinya, oleh karena itu mintalah sesuatu pasti akan kukabulkan asalkan jangan minta mayat suamimu dihidupkan kembali.” Jawab Sawitri, “Kembalikan kerajaan, kekuasaan, dan kesehatan mertua patik sehingga beliau dapat melihat kembali.” Sabda batara Yama, “Permintaanmu akan kuberi, dan kembalilah kamu supaya tidak payah di jalan.” Tetapi kata Dewi Sawitri, “Patik tidak akan payah selama berdampingan dengan suami patik, karena sekali patik bercampur dengan seorang yang berbudi, selama itulah patik akan mengabdi.” Sabda sang betara Yama, “Perkataanmu sungguh menyenangkan orang budiman, oleh karena itu mintalah sekali lagi, asal tidak minta hidupnya kembali Setiawan.” Jawab Dewi Sawitri, “Mohon
kami diberi 100 orang putra dan hidup di suatu kerajaan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta raharja.” Sabda batara Yama, “100 orang putra yang gagah perkasa,
bahagia sempurna akan kuberi dan sekarang kembalilah Sawitri, karena kau telah berjalan terlalu jauh.”
Dewi Sawitri berucap, “Bagaimana patik dapat berputra 100 orang, apabila patik tidak bersuami, tak ada gunanya patik selamat dan bahagia, jika suami patik tak ada. Oleh karena itu hidupkanlah Setiawan junjungan patik.” Batara Yama bersabda, “Baiklah kulepas nyawa suamimu, berbahagialah engkau dengan junjunganmu. Dan Setiawan akan kuberi usia 100 tahun.”
Sesudah mengabulkan permintaan Dewi Sawitri, maka lenyaplah batara Yama dan pergilah Sawitri ke tempat suaminya berbaring. Dengan perlahan – lahan duduk bersimpuh dan mengangkat kepala Setiawan ke haribaannya. Tak lama kemudian Setiawan membuka matanya bagaikan orang tidur terlalu lama. Dewi Sawitri dengan perasaan haru, sambil menyanggul rambutnya memelukkan tangannya kepada suaminya.
Waktu itu hari telah larut malam. Kedua insan yang berbahagia itu sedang bersiap – siap hendak pulang ke pertapaan. Sementara itu Prabu Jumat Sena yang berada di pertapaan sangat terkejut karena tiba – tiba ia dapat melihat kembali. Dengan rasa bersyukur dan bahagia kepada Yang Maha Kuasa, beliau menanti kedatangan putra – putranya. Tak lama kemudian datanglah Setiawan dengan Dewi Sawitri dan sambil bersujud, berceritalah Dewi Sawitri di hadapan mertuanya apa yang telah dialaminya selama di hutan, serta perjumpaannya dengan batara Yama.


Sawitri gaya Surakarta


ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ



Kisah Sawitri, Cinta Istri yang Merubah Takdir


Ceritanya sekarang bukan cerita carangan, tapi cerita asli yang ada di Mahabharata, meskipun bukan cerita mainstream.

Retno Sawitri, sang juwita, bunga kerajaan Mandaraka sudah masak secara fisik dan mental untuk memasuki dunia perkawinan. Kecantikannya sempurna, tubuhnya semerbak mewangi (halah, lebay deh). Bukannya tidak ada raja atau putra raja yang datang melamar, tapi dia keukeuh, ogah kawin kalau laki-laki itu bukan pilihannya sendiri.
Ayahnya, Prabu Aswapati, raja Mandaraka (Prabu Aswapati ini leluhur Salya, seorang “key person” di cerita Bharata Yudha, kesaktiannya nyundul plafon eh,….langit!. Salya ini punya adik, satu-satunya adiknya, namanya Dewi Madrim, yang kemudian nikah dengan Pandu dan berputra Nakula dan Sadewa,  si kembar Pandawa itu……halah, jadi ngelantur. Kapan-kapan aja dah cerita tentang Salya, kalau ada yang mau baca!).
Sampai mana tadi? (pikun mode on)
Prabu Aswapati yang sudah mpet pada kelakuan anaknya ini sering bertanya kepada anaknya (kira-kira gini omongnya,  gak pakem blas)
Ndhuk, putri pun Romo kang dhenok dhebleng, kalaupun Romo sudah oke kalau kamu mau pilih suamimu sendiri. Terus kapan kamu mau mutusin pilihanmu itu?”
Dan anaknya pun menjawab, kira-kira juga begini:
Bes! (dari kata Ebes, panggilan kepada ayah, khas orang Ngalam), nantilah, waktunya belum datang!”
“Terus,….kapan itu?” kejar bokapnya.
“Nantilah, Sawitri tahu kok kalau waktunya tiba, Ebes kalau kadit itreng gak usah ikut ribut dah!”. (Kadit itreng = tidak ngerti,  cara Ngalam)
Ditengah Ayahnya yang pusing itu, tiba-tiba saja Sawitri bilang kalau dia sudah menemukan laki-laki pilihannya. Seluruh istana gempar dengan pilihan itu, meskipun tak ada cacat yang terlihat pada diri Bambang Setiawan sang terpilih ini. Setiawan secara fisik sempurna, cuakep kaya dhalangnya (tapi bukan saya dhalangnya ya!), putra brahmana Resi Jumatsena dari Argakenanga. Jadi secara bibit, bebet dan bobot tidak ada alasan  bagi Prabu Aswapati untuk menolak calon menantunya ini.
Tapi  ada masalah besar yang akan menyertai perkawinan Setiawan-Sawitri ini. Dari semadinya, Prabu Aswapati segera tahu kalau umur Bambang Setiawan hanya tinggal setahun lagi. Ketika dikonfirmasi kepada putrinya, ternyata Sawitripun juga tahu, tapi tetap tidak merubah keputusannya.  Baginya :  ”Hidup setahun bersama orang yang saya cintai, lebih berharga dari hidup wajar selama seratus tahun”  (halaaah, klepek-klepek dah yang nulis!).
Karena merasa tidak mampu menentang kemauan putrinya yang koppeh (=koppig, Bahasa Holanda untuk  kepala batu) ini, akhirnya pernikahan Satiawan-Sawitri berlangsung juga.  Masa perkawinan yang hampir dipastikan hanya berjalan setahun ini, dijalani Sawitri-Setiawan dalam manisnya madu kehidupan. Tapi Sawitri tidak pernah lupa bahwa umur suaminya tiap hari makin berkurang juga. Diputuskanlah bahwa dia akan berusaha melawan takdir itu sekuat dia bisa. Bermacam cara dilakukan dalam laku keprihatinan dan doa, agar nyawa suaminya tidak jadi diambil. Tapi takdir memang kejam. Dan hari akhir buat Setiawan itupun datanglah.
Berbeda dengan kebanyakan orang,  Sawitri mampu melihat kedatangan Batara Yamadipati, Sang Dewa Pencabut Nyawa yang mendatangi suaminya. Yamadipati yang dilukiskan berwajah raksasa, kepalanya nongol begitu saja dari badan zonder leher, mulutnya selalu terbuka seperti tertawa (meskipun gak ada manusia yang berani mengatakan bahwa dia sedang tertawa). Blas, gak ada lucu-lucunya. Penampilan Yamadipati selalu serius, tidak cengengesan seperti Narada. (Kalau Narada yang Sekjen Kahyangan itu kan sering membanyol. Omongannya yang selalu dibuka dengan kata-kata ngawur: “Blegenjong, blegenjong“. Kepalanya yang selalu mendongak ke atas, kecuali kalau nemu duit seratus ribuan di tanah)
Sawitri yang sudah terkenal karena kelakuannya yang kepala batu ini segera menerapkan ajian “diving“nya (Seperti Puyol yang mengaduh-aduh ketika ditowel CR7)   tidak menerapkan ajian apa-apa (takut pada fans Barca yang demo…..). Cuma ilmu ngeyel nya yang abis-abisan diterapkannya. Tujuannya cuma satu, membatalkan atau paling tidak menunda kematian suaminya. Akhirnya, Yamadipati bersedia menunda kematian Setiawan sejam saja. Hanya menunda! (Waktu sejam itu mestinya digunakan mereka buat ehm, ehm kan? Gak usah saya ceritakan ah! Parno!). Akhirnya waktu sejam itu juga habis dan dengan kepala dipangkuan isterinya, nyawa Setiawan dicabut Yamadipati meninggalkan raganya.
Tapi berbeda dengan perempuan lain yang hanya mampu menangisi kematian suaminya, Sawitri segera bangkit dan mengikuti kepergian Yamadipati. Heran dengan kelakuan Sawitri yang di luar kebiasaan ini, Yamadipati segera bertanya
“Apa maumu, Sawitri?”
“Hamba akan ikut kemanapun nyawa suami hamba akan dibawa” jawab Sawitri
“Itu gak mungkin, ndhuk! Suamimu sekarang sudah berbeda alam denganmu!”
“Ambil saja nyawa hamba sekalian kalau begitu,  pukulun! Biar hamba bisa bersatu dengan suami hamba!”  kata Sawitri  nangis bombay.
“Itu juga gak mungkin. Belum saatnya kamu mati sekarang” Yamadipati mulai jengkel. Baru kali ini ada manusia yang ngeyel seperti ini.
“Kalau gitu,  hamba akan ikut kemana nyawa suami hamba dibawa pergi. Titik!”  Sawitri ngotot.

Yamadipati yang jengkel bukan main, segera pergi dan berniat menghilang dari hadapan pengganggunya ini. Tapi ajaibnya, di depan Sawitri, semua kesaktian dan kemampuan kadewatan yang biasa dimiliki Yamadipati menguap begitu saja.  Dia tidak mampu melepaskan diri dari Sawitri!.

Et dah!

Ayolah,  pikir Yamadipati,  kalau aku gak mampu meninggalkan perempuan ini,  masa sih dia tahan berjalan jauh?. Jadilah Yamadipati sengaja berjalan muter-muter kemana-mana diikuti Sawitri, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan (kata dhalangnya sih…). Tapi ternyata Yamadipati juga salah memperkirakan kemampuan fisik Sawitri yang dikiranya lemah.  (Jelas,  dalam hal ini Yamadipati ini salah prediksi. Dia mungkin belum pernah tahu kalau dari tangan perempuan yang katanya lemah ini bisa meluncur “UFO”  atau gilingan cabe,  yang bisa membuat pria seperkasa Ade Rai pun tumbang).  Sawitri gak ada capeknya!
“Sudahlah Sawitri, pulanglah, kau sudah berjalan terlalu jauh. Lihatlah badanmu sekarang yang tak terurus. Kain dan pinjungmu  sudah belel, sobek di sana sini tercabik onak dan duri. Kulitmu menghitam dan pecah-pecah terpanggang matahari. Rambutmu yang awut-awutan gak pernah keramas.  Gak  sayangkah kamu akan kecantikanmu sendiri,  ndhuk?”  Yamadipati menyerang, haluuuus, tapi langsung. Kick and Rush!
“Ya sayanglah,  pukuluuun. Perempuan mana sih yang gak peduli penampilannya?”  Sawitri mewek-mewek.
“Kalau begitu pulanglah. Rawatlah dirimu. Keramasilah rambutmu, mumpung ada promosi shampo.  Kalau kecantikanmu pulih kembali, masih banyak lelaki lain yang bisa kau ajak hidup bersama”  Yamadipati seneng betul,  rayuannya manjur.
“Lelaki lain itu untuk perempuan lain, pukulun. Lelaki hamba ya hanya itu.  Lagian sekarang iklan shamponya udah gak ada kan?. Hamba gak punya pilihan lain. Jadi bolehkah nyawa suami hamba,  hamba ajak pulang sekalian?”  Ngeyelnya Sawitri kumat lagi……….

Yamadipati cep klakep. Gondok betul dia! Perjalananpun dilanjutkan dalam diam. Kemudian terlintas ide baru dari sang Yamadipati.  Kini dia memilih memakai pola serangan yang tidak langsung. Gaya tiki-takanya si Uncle Pep.
“Pulanglah Sawitri, Kau kan tahu si Jumatsena mertuamu itu yang tadinya raja? Yang karena kesehatannya terganggu jadi kekuasaannya di kudeta orang? Sekarang kesehatannya dan kekuasaannya kukembalikan. Pulanglah. Bantulah mertuamu itu!”  Yamadipati membujuk dengan bonus.
“Hamba masih tetap ingin bersama suami hamba!”  Sawitri bergeming, biarpun ada bonus.
“Sudahlah, sekarang kuberi kalian 100 orang putra-putri dan hidup di suatu kerajaan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta raharja. Dan sekarang kembalilah, pulanglah!.” Yamadipati membujuk lagi dengan menambah bonusnya.
“Gak mau pukulun, 2 orang anak saja cukup, sesuai KB, lagian siapa yang ngempanin anak segitu banyak? Bapaknya kan gak ada?”  Sawitri nyamber, ngeyel.
“Hlo, hlo, menurut pakem pewayangan, anak kalian ada 100 orang! Jangan merubah pakem ah, tar diomelin orang banyak!”  kata Yamadipati bersungut-sungut.
“Biarin, 2 anak saja cukup dan hamba gak mau pulang kalau tidak bersama suami hamba!” Sawitri keukeuh saja.
Merasa rugi karena sudah memberi bonus tanpa hasil, sambil marah-marah Yamadipati meneruskan langkahnya dan Sawitri tetap menginthili di belakangnya. Sekarang gangguan itu bertambah karena sambil jalan, Sawitri ndremimil (ngomel-ngomel sendiri gak ada putusnya).
“Hamba ini kagum hlo sama om Yamadipati ini, ditinggal pergi sama isterinya masih mampu hidup seolah tanpa ada masalah” terdengar Sawitri berkata.  Loh, panggilan “pukulun” kok berubah jadi “om“?
“Apa maksudmu, Sawitri?”  seperti disengat lebah Yamadipati berbalik.
“Iya, hamba ini sangat kagum sama om Yamadipati ini. Kesaktiannya mampu membuat semua orang takut, tapi ketika isteri om Yamadipati, Dewi Mumpuni selingkuh dengan Bambang Nagatatmala putra Sanghyang Antaboga, eeeh si om gak marah, malah menyerahkan isteri om kepada laki-laki itu”
Gubraaaaakk!  Dari marah luar biasa karena rahasianya yang paling dalam sudah dibongkar Sawitri, pelan-pelan perasaan Yamadipati menjadi semeleh dan trenyuh.  (Ihlas dan terharu gitu loh!)
“Sudahlah, sudahlah, Sawitri! Aku kagum akan kesetiaanmu terhadap suamimu. Tidak seperti mantan isteriku yang tipis budinya itu. Terimalah, kukembalikan nyawa Setiawan kepadamu. Jagalah dia baik-baik jangan sampai dia nanti lupa kejadian ini, terus poligami yaa?”. (jelas, hal yang menyangkut poligami ini cuma hasil iseng yang nulis aja. Gak ada di pakem! Biar lebih dramatis  gitu……)
Bisa dibayangkan betapa gembiranya Sawitri menerima suaminya kembali? Gak usah ditambah-tambah lagi dengan kalimat lain kan?
(Fragmen Sawitri-Setiawan ini terukir jadi relief pada Candi Penataran Blitar. Candi Hindu yang dibangun tahun 1194M,  yang mengukir figur manusia pada reliefnya mirip dengan figur wayang kulit)

Pesan cerita.

Dewi Sawitri memang menjadi teladan bagi seorang isteri yang ngeyel, eh salah……. seorang isteri yang setia. Karena kesetiaan dan cintanya, dia bahkan mampu membalikkan takdir dan mengembalikan nyawa suaminya. Pesan ini tersurat amat kuat di ceritanya kan?.
Tapi kalau boleh, yang nulis ingin menambah dengan pendapat yang amat subyektif.  Biarpun kita semua percaya takdir, tapi takdir buruk itu bisa dirubah dengan niat, kemauan keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Takdir hanyalah hasil akhir,  sebelum itu adalah “kerja” keras yang ngeyel dan tanpa henti.


ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ







Tipe Pria Yang Tidak Akan Menyatakan Komitmen Cinta




└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐

Tipe Pria Yang Tidak Akan Menyatakan Komitmen Cinta


APAKAH Anda merasa jenuh menunggunya mengutarakan komitmen cinta? Tandai saja pasangan berdasarkan kriteria ini, sehingga Anda tak harus menunggu tawaran komitmen hubungan darinya.

Keseriusan seseorang memang biasanya ditandai lewat pernyataan yang diproklamirkan. Namun nyatanya, tak semua pria langsung mengikrarkan komitmen tersebut meskipun jalinan kedekatan sudah berlangsung lama.

Sebelum terjebak dengan hubungan tak jelas dengan seorang pria, tandai saja pasangan lewat sinyal berikut sehingga Anda memiliki limit waktu yang jelas ketika menunggunya. Shine memaparkannya untuk Anda.

Tipe yang pura-pura serius


Tipe pria ini bertindak seolah-olah dia akan melewatkan hubungan jangka panjang bersama Anda, tetapi ketika disinggung soal pembicaraan pernikahan dia selalu mengelak. Jika hal ini tergambar pada sosok dia, maka saatnya memutuskan apakah Anda tetap menjalin cinta dengannya atau tidak dengan ketidakjelasan masa depan yang dimilikinya.

 

Tipe filsuf


Apakah dia mengatakan berencana untuk bersama Anda selamanya, tetapi dia sendiri tidak memercayai pernikahan. Jika Anda menemui dia ingin bersama Anda lewat kata-katanya namun tidak ada tindakannya yang konsisten dengan ucapannya, maka hal tersebut menunjukkan kalau dia tidak ingin terlibat pernikahan dengan Anda. Tak jarang, tipe ini pun membawa-bawa alasan kalau banyak pernikahan temannya yang tidak mendatangkan kebahagiaan sehingga tak harus ada pernikahan. Jika demikian situasinya, tanyakan saja padanya untuk mengikuti konseling sehingga dia memiliki pandangan berbeda seputar pernikahan. Namun jika dia tak ingin mengikuti saran Anda, sebaiknya bersiaplah untuk meninggalkannya atau Anda hanya akan membuang-buang waktu.

Tipe inovator


Tipe ini biasanya memiliki pandangan berbeda tentang pernikahan karena pengalamannya yang tidak indah. Mungkin saja dengan dorongan kuat tersebut, dia pun tak ingin berbuat kesalahan kedua kalinya, sehingga dia sangat protektif dalam mengambil keputusan. Nah, apapun kondisinya yang memungkinkan pasangan mengekspresikan ketakutan dan kecemasan secara terbuka, tentu hal ini akan menyebabkan masalah di kemudian hari. Jadi, bicarakan hal tersebut secara intensif sehingga Anda dapat menjembatani antara impian Anda dan menghargai komitmen dirinya. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari dia pun berubah pikiran mengenai pandangannya sendiri setelah Anda dengan sabar menunggunya.

 

Tipe pembual


Dia telah bilang mencintai Anda dan tertarik kepada Anda, tapi tidak berani membuat komitmen jangka panjang dan tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan seiring perjalanan waktu. Nah, saatnya untuk berhenti menciptakan ruang dalam kehidupan Anda untuk dirinya. Dia mungkin sangat fantastis dan mencintai Anda, serta lebih baik dari orang di masa lalu Anda. Namun ketika dia tidak ada keseriusan lebih lanjut, lantas untuk apa Anda terus berada bersamanya bukan?

└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐



Cinta dan Komitmen



♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨


Cinta dan Komitmen


Ketika kita menyukai seseorang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya.
Ada masa-masa rasa suka itu berkurang,
bahkan hilang sama sekali.
Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi,
maka selesai begitu saja.

Itulah gunanya komitmen,
kepercayaan,
yang akan membawa kembali perasaan suka
persis seperti pertama kali dulu
kenapa kita suka seseorang tersebut,
atau malah lebih.

Kita tidak akan pernah bisa menghidupi sebuah hubungan jangka panjang hanya dengan cinta.
Kita memerlukan energi lain,
yaitu komitmen,
kepercayaan.

—Tere Lije




♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨


“Kupikir orang tidak akan bisa membuat komitmen sebelum benar-benar jatuh cinta.
Sekarang aku tahu,
kita tidak akan bisa mencintai dengan tulus sebelum membuat komitmen.”
― Kate Kerrigan




♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨


“Inilah kesempatan terakhirku dalam cinta,
bukan karena aku sudah terlalu tua untuk menjalin cinta dengan orang lain,
tetapi karena sudah waktunya berhenti.
Berhenti berlari,
mengejar sasaran bergerak yang kusebut kebahagiaan itu,
dan merasa berbahagia dengan apa yang sudah kumiliki.”
― Kate Kerrigan


♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨


“Berkomitmen bukan berarti kamu hanya fokus pada satu orang saja.
Tapi bagaimana kamu menjaga hubungan dengan seseorang walaupun kamu banyak pilihan. :) ”


♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨


“Dalam sebuah hubungan pasti ada interaksi. Tetapi bukan berarti ketika sedang tidak berinteraksi, hubungan itu lantas hilang. Hubungan itu timbul oleh komitmen yang di ambil oleh kedua belah pihak.”


♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♥̲̅ ♡̲̅ ♡̷̬̩̃̊ ♡̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♥̨ ♥̸̨ 




Senin, 08 Juli 2013

Makna Dibalik Jatuh Cinta



❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦
 

Makna Dibalik Jatuh Cinta

Tiada hari tanpa mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan, dan tidak lupa disertai dengan perbuatan yang baik dan positif, perbuatan yang selalu memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri. :)

Pada kesempatan yang indah dan penuh berkah ini, penulis akan mengupas tuntas apa yang belum dibongkar rahasianya, terutama rahasia-rahasia di bidang cinta. Karena tanpa mengetahui rahasia-rahasia dan keajaibannya, tentu saja cinta seakan tidak menarik bila hanya dirasakan dan pasti tidak akan banyak orang yang dapat mempertahankan cinta.

Dalam hidup ini, anugerah demi anugerah tiada batas diberikan Tuhan kepada kita, dan nilainya pun tidak dapat kita hitung dengan menggunakan alat secanggih apapun. Berbagai nikmat, entah nikmat sehat, nikmat harta, nikmat pekerjaan dll. adalah tidak lepas dari bantuan Tuhan.

Ada lagi nikmat yang kita lupakan, yakni nikmatnya jatuh cinta. Ada apa dengan jatuh cinta, senikmat apakah jatuh cinta itu, dan apa makna dibalik jatuh cinta?. Semuanya akan kita bongkar disini, sehingga dapat meluaskan pandangan kita mengenai apa itu cinta.


1. Pengertian Jatuh Cinta

Jatuh cinta pengertian dan arti sederhananya adalah menjatuhkan cintanya. Ada dua rasa dalam jatuh cinta, yaitu rasa sakit dan rasa bahagia. Jatuh cinta yang rasanya sakit adalah menjatuhkan cintanya pada tempat yang salah, tempat yang salah adalah hati yang tidak menerima kehadiran cintanya, sehingga hati yang dicintainya tak mencintainya.

Orang yang jatuh cinta terasa sakit ini, biasanya orang itu tergesa-gesa ingin memilikinya. Dan orang itu tak mengetahui seluk beluk tentang yang dicintainya, dan pada akhirnya sakitlah yang akan dirasakannya.

Berbeda dengan yang satu ini, jatuh cinta yang rasanya bahagia adalah menjatuhkan cintanya pada tempat yang pas. Anda tahu, di mana-mana kalau jatuh ditempat yang tak pas, pasti sakit rasanya, apalagi disengaja. Dan pasti anda juga tahu, kalau anda jatuh ditempat yang pas, empuk, nyaman, pasti yang ada malah rasa bahagia bukan?. :)

Jatuh cinta yang terasa bahagia, sudah tentu hati yang dicintainya menerima kehadirannya, sehingga hati yang dicintainya telah mempersiapkan tempat senyaman mungkin dihatinya untuk hati yang akan hadir dihatinya. Sungguh indah bukan, jatuh cinta orang seperti ini sungguh ajaib, tanpa diundang datangnya dan kehadirannya, tiba-tiba saja muncul dengan frekuensi yang sangat tinggi. Dan kehadirannya pun tiba-tiba kita sambut dengan senang pula, berarti cocok. hehehe


2. Proses jatuh cinta

Mungkin diluar sana sudah banyak rumus-rumus atau model prosesnya jatuh cinta. Namun, penulis akan membagi proses jatuh cinta menjadi dua. Sebelum membahas proses jatuh cinta, simak dibawah ini.

Jatuh cinta adalah akibat dari suatu sebab, tidak ada jatuh cinta yang tiba-tiba jatuh cinta begitu saja. Pasti ada suatu rahasia dibalik jatuh cinta itu, apa sebab-sebab yang menyebabkan adanya jatuh cinta?.

Penyebab secara umum berupa hal-hal yang berkesan sehingga muncul-lah ketertarikan. Nah, disaat inilah proses jatuh cinta dibagi menjadi dua:


a. Dari mata turun ke hati

yang pertama adalah dari mata turun ke hati. Jatuh cinta yang prosesnya seperti ini adalah jatuh cinta yang berawal dari penglihatan mata. Jatuh cinta seperti ini hanya kagum pada sebatas raga saja, misalkan ia jatuh cinta karena ketampanan, kecantikan, dan lain-lainnya.

Apabila kita mencintai seseorang mulai dari mata, sudah pasti tidak akan langgeng, dijamin dah 1000%. Oleh karena itu, hentikan proses jatuh cinta seperti ini, karena akan membahayakan dan jatuh cintanya akan terasa sakit.

b. Dari hati naik ke mata

Yang kedua adalah proses jatuh cinta dari hati naik ke mata. Proses seperti ini disebabkan karena hatinya terkesan pada seseorang yang perilakunya baik. Tidak peduli seseorang itu tampan, cantik, kaya atau mempunyai jabatan tinggi, dan yang paling penting, jatuh cinta seperti ini bukan dari yang nampak, namun jatuh cinta karena adanya inner beauty atau adanya inner handsome pada seseorang yang dimaksud.

Apabila kita tiba-tiba jatuh cinta pada orang yang perilakunya baik dan tidak dibuat main-main, sudah tentu saja proses jatuh cinta dari hati ke mata akan terlaksana. Dan dijamin, cinta seperti ini biasanya akan langgeng, jika saling mencintai kebaikannya, dan apabila diantaranya salah, tentu akan memilih cara yang baik untuk menyelesaikan masalah itu.

3. Nikmatnya jatuh cinta

Setelah mengetahui pengertian dan proses jatuh cinta, kini saatnya harus tahu nikmatnya jatuh cinta. Mungkin pembaca yang budiman, sudah pernah dan bahkan berkali-kali. waaah, hehehe. Yang jelas, nikmatnya jatuh cinta lebih enak daripada rasanya mie ayam, rasanya bakso, rasanya es campur dan rasanya berbagai makanan dan minuman lainnya. :)

Namun, yang belum merasakan nikmatnya jatuh cinta (pasti semua sudah pernah) penulis akan memberikan sedikit contoh nikmatnya dibawah ini:


a. Menyehatkan

Lagi-lagi yang paling utama nikmatnya jatuh cinta adalah menyehatkan, bagaimana bisa?. Tentu saja bisa, ketika kita jatuh cinta, ada sesuatu yang jelas-jelas nampak dan dapat dirasakan.

-> Senyum

Orang tersenyum, lebih sehat daripada orang tertawa, senyum dapat memberikan keceriaan pada wajah dan dapat mengawetkan diri menjadi tetap muda, tetapi tetap saja akan mati. hehehe. Disaat kita jatuh cinta, kadang kita senyum-senyum sendiri dikamar, bertemu orang lain senyumnya tiba-tiba berbeda dari sebelumnya. Banyak senyum walaupun dikatakan gila, yang penting sehat. Daripada yang mengatakan kita gila, capek sendiri orangnya. Dan bila dibilang gila, sebenarnya orang yang mengatakan itulah yang gila, sudah jelas-jelas kita tak gila dikatakan gila. Hi hi hi hi.

-> Dag Dig Dug

Dag dig dug di sini bukanlah suara bedug yang akan menandakan akan datangnya waktu ibadah lho, melainkan hati kita saat jatuh cinta akan merasakan dag dig dug yang sangat cepat. Nah, rasa dag dig dug ini juga dapat menyehatkan, terutama menyehatkan jantung dan seluruh tubuh. Jantung akan terus aktif bekerja, sehingga jika jantung semangat dalam bekerja akan memberikan dampak positif bagi tubuh. Benar bukan?. :)

b. Membangkitkan

Jatuh cinta sudah tentu akan membangkitkan semangat, membangkitkan energi, membangkitkan kekuatan lebih dahsyat lagi. Tidak peduli ada 1000 penjahat, pasti 1000 penjahat akan mudah dikalahkan oleh orang yang sedang jatuh cinta. Bagaimana bisa, ya karena larinya sangat cepat sekali. He he. Yang penting, jatuh cinta akan membuat orang lemah menjadi kuat dan akan menjadikan orang kuat semakin kuat. Itulah kenyataannya, dan tidak ada kepalsuan dalam membuktikan.

c. Mengubah sifat

Orang yang dilanda jatuh cinta sifatnya akan berubah, sifatnya yang dahulunya jelek, akan berubah menjadi baik, setelah yang dicintainya benar-benar seseorang yang istimewa bagi dirinya. Dan yang sifatnya baik, akan lebih bersemangat dalam hal kebaikannya. Itulah kekuatan jatuh cinta yang sangat dahsyat sekali.

4. Bahaya jatuh cinta

Ternyata jatuh cinta juga dapat membahayakan, mengapa membahayakan?. Jatuh cinta yang berlebihan sakitnya akan luar biasa jika yang dicintainya tidak menerima cintanya. Akan sangat sakit jika yang dicintainya mengkhianati cintanya.

Oleh sebab itu, sebelum memutuskan untuk jatuh cinta, yakinkan dahulu hati kita dengan cara menelusuri lebih lanjut siapakah dia. Dengan itu kita dapat mengantisipasi apa yang akan terjadi di kemudian hari. Janganlah berlebihan, sekedarnya saja, agar kita tidak bertindak brutal dan bertindak jauh di luar batas kemanusiaan. :)

❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦