Sudah beberapa
bulan ini Sawitri tinggal bersama dengan Satyawan.
Waktu begitu cepat
berlalu. Kini sudah memasuki sisa umur Satyawan yang tinggal beberapa
hari lagi.
Sawitri selalu berdoa agar usia Satyawan dapat di perpanjang.
Tiba tiba datang seorang dewa dengan cahaya memerah, kulit hitam
memerah, mata memerah dan juga berpakaian serba merah.
Nampak menggotong
sukma seseorang.
Sawitri tidak sadar, kalau sukma yang dibawa adalah
sukma suami Satyawan.
Terhenyak dari ketertegunannya, maka ia segera
memeriksa suaminya, ia melihat Satyawan sudah terbaring lemas tanpa
bernapas.
Segera Sawitri menangkap dan menarik lengan baju sang dewa
penyabut sukma, yaitu dewa Yamadipati, yang baru turun dari Kahyangan
dan telah mengambil sukma suaminya.
Entah karena apa, Yamadipati tidak
berdaya ketika Sawitri memegangi lengan bajunya.
Dewi Sawitri tanpa
terasa bisa berjalan diangkasa mengikuti kepergian Batara Yamadipati.
pergi ke Kahyangan.
Batara Yamadipati minta agar Sawitri melepaskan baju
Batara Yamadipati yang dipegang erat oleh Dewi Sawitri.
Perjalanan
Sawitri mengikuti Batara Yamadipati sudah semakin jauh, mendekati alam
kahyangan. Melihat situasi yang tidak nyaman.
Batara Yamadipati berjanji
akan memberikan tiga permintaan kepada Sawitri, asal Sawitri tidak
meminta nyawa Satyawan, dan setelah itu harus melepas pegangan baju
Batara Yamadipati.
Dewi Sawitri semakin erat memegangi lengan baju
Batara Yamadipati.
Sawitri akhirnya menerima pemberian tiga permintaan
yang diberikan Batara Yamadipati.
Yang pertama Sawitri meminta agar ayah
mertuanya, yaitu Prabu Jumatsena disembuhkan dari kebutaannya,
permintaan yang kedua, minta agar ayah mertuanya, dapat berkuasa
kembali di negerinya lagi.
Yamadipati sudah memenuhi dua permintaan.
Tinggal satu permintaan lagi.
Sawitri minta setelah perkawinan dengan
Satyawan, setahun yang lalu, ia belum dikurniai putera seorang pun, maka
ia menginginkan mempunyai putera sebanyak 100 orang putera dari
Satyawan.
Tanpa berpikir panjang Batara Yamadipati mengiyakan permintaan
Sawitri. Sawitri ragu, maka ia pun menanyakan apakah Batara Yamadipati
tidak bohong.
Tentu saja Batara Yamadipati degan tegas bahwa semua dewa
tidak ada yang berbohong pada manusia.
Sawitri akhirnya bicara, bahwa
anak 100 yang akan didapat dari Satyawan, hanya bohong belaka, kalau
Satyawan tidak diberikan kesempatan hidup lagi selama 100 tahun lagi.
Batara Yamadipati tertegun, ketika tahu kalau tanpa sengaja ia
memberikan sukma Satyawan kepada Sawitri.
Batara Yamadipati menjadi iba
melihat kesetiaan Sawitri pada suaminya, Satyawan.
Batara Yamadipati
menjadi iba melihat kesetiaan Sawitri pada suaminya.
Akhirnya Batara
Yamadipati dengan menggendong sukma Satyawan dan membimbing Sawitri
kembali turun ke marcapada kembali ketempat Setyawan terbaring
sebelumnya.
Sukma dikembalikan, dan Setyawan hidup kembali.
Peristiwa
ini tidak pernah diceritakan kepada suaminya, sampai akhir hidupnya.
Karena Sawitri tidak menginginkan suaminya merasa berhutang nyawa
dengannya.
Kini mereka hidup bahagia di istana Salwa bersama ayahandanya
yang telah bisa melihat lagi, memerintah kembali negerinya dengan arif
bijaksana.
Sawitri gaya Yogyakarta
ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ
Pada jaman dahulu kala di negeri Madra bertahtalah seorang raja
bernama Prabu Aswapati yang berbudi luhur, adil dan bijaksana. Beliau
mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Sawitri yang cantik parasnya,
laksana dewi Sri dari Kahyangan. Akan tetapi walaupun Sawitri mempunyai
paras yang elok, tubuhnya yang indah menggiurkan, matanya seperti bunga
saroja, namun Prabu Aswapati selalu bermuram durja, karena Dewi Sawitri
yang sudah dewasa itu belum ada seorangpun yang meminangnya. Maka pada
suatu hari Prabu Aswapati bersabda kepada putrinya: “Hai putriku
Sawitri, waktu ini sudah saatnya kau harus bersuami. Tetapi karena
sampai sekarang tak ada yang meminangmu, maka pilih dan carilah sendiri
seorang sujana yang patut menjadi suamimu.”
Mendengar sabda ayahnya, Sawitripun segera bersujud dan pergi dengan
tanpa berpikir lagi, karena malu atas perkataan ayahandanya itu. Dengan
diiringi oleh beberapa pengawal berangkatlah Dewi Sawitri dengan kereta
kencana memasuki hutan belantara menuju ke tempat pertapaan para
Brahmana. Di tengah hutan tersebut Dewi Sawitri berjumpa dengan seorang
pria yang tampan, Setiawan namanya. Ia putra dari seorang Brahmanaraja
yang bernama Jumatsena. Brahmanaraja tersebut semula adalah seorang raja
di negeri Syalwa, tetapi kemudian menjadi Brahmana karena cacat buta
matanya, pada waktu
putranya masih kecil beliau cacat meninggalkan tahtanya yang telah
dirampas oleh musuh. Setiawan yang dibesarkan di tengah hutan pertapaan
itulah yang menjadi pilihan Dewi Sawitri.
Setelah seksama pengamatannya, kembalilah Dewi Sawtri menghadap
ayahandanya dengan menceritakan pengalamannya. Tetapi betapa menyesalnya
ketika mendengar sabda betara Narada yang saat itu berkunjung ke negeri
Madra. “Aduhai raja Madra, putrimu ternyata kurang teliti memilih
suami, walaupun Setiawan lurus dan luhur budinya, tetapi ia mempunyai
cacat yang akan menghilangkan segala kebajikannya. Cacatnya itu hanya
satu, yaitu “Setahun lagi Setiawan akan sampai pada ajalnya.”
Maka setelah mendengar sabda betara Narada itu raja Aswapati segera
memerintahkan dewi Sawitri untuk memilih orang lain, agar kelak tidak
menjadi janda. Tetapi apa jawab dewi Sawitri: “Duuh, ayahanda. Sekali
patik memilih tidak akan lagi memilih orang lain, karena yang diputuskan
oleh hati harus diucapkan dengan suara, kemudian dinyatakan dengan
perbuatan, itulah pedoman hamba.”
Karena Sawitri tidak mau mengubah pendiriannya, maka Prabu Aswapati
menyediakan peralatan perkawinan menurut adat. Dan dikawinkanlah Sawitri
dengan Setiawan, sejak saat itu Sawitri diboyong ke hutan pertapaan.
Sawitri selalu menyenangkan suaminya dengan perkataan manis dan
kebaktian serta kesetiaannya yang luar biasa. Tetapi tubuh Sawitri makin
hari makin susut karena siang malam selalu ingat akan perkataan yang
disabdakan oleh betara Narada.
Hari berganti hari, maka sampailah hari yang keempat sebelum Setiawan
meninggal, Sawitri telah berjanji akan berdiri tegak selama 3 hari 3
malam. Walaupun Brahmanaraja Jumat Sena telah meminta untuk mengubah
janjinya namun Sawitri tetap dalam pendiriannya. Tepat pada hari
Setiawan akan menemui ajalnya, pagi – pagi Dewi Sawitri menghampiri
suaminya dan berkata, “Janganlah kakanda hari ini pergi seorang diri ke
hutan karena adinda tak kuasa bercerai dengan kakanda. Perkenankanlah
hamba bersama kakanda pergi ke hutan mencari kayu.” Ujar Setiawan sambil
mendelik, “Hai adinda, kau belum pernah menempuh hutan selebat itu,
bagaimana adinda dapat berjalan? Padahal adinda terlalu lemah akibat
terus berpuasa dan bertapa.”
Jawab Dewi Sawitri, “Hamba tidak lelah oleh puasa dan apa yang telah
hamba putuskan harus hamba kerjakan.” Brahmaraja Jumat Sena dan Setiawan
setelah mendengar ucapa Dewi Sawitri itu terpaksa mengabulkan
permintaannya, karena selama berada di pertapaan Dewi Sawitri belum
pernah mengajukan sesuatu permintaan. Maka berjalanlah Dewi Sawitri di
belakang suaminya dengan rasa pilu dan teriris – iris sambil menantikan
saat yang telah ditetapkannya itu. Setelah mengumpulkan buah – buahan di
keranjangnya, maka mulailah Setiawan membelah kayu. Tetapi tiba – tiba
keluarlah peluh yang membasahi tubuhnya dan menyebabkan terasa sakit di
kepalanya.
Dengan sempoyongan Setiawan menghampiri Dewi Sawitri sambil berkata,
“Adinda, kepala kakanda bagai ditikm lembing rasanya, sehingga kakanda
tak kuasa berdiri, biarlah kakanda tidur sejenak.” Maka Dewi Sawitri
menghampiri suaminya, kemudian duduk bersimpuh di tanah. Kepala Setiawan
diletakkannya di haribaannya. Lalu ia teringat akan sabda batara
Narada, serta sadar bahwa inilah saat ajal Setiawan jam dan harinya
telah tiba. Pada saat itu juga datanglah seorang yang bermahkota merah,
matanya merah, seram sikapnya dengan sebuah jerat di tangannya, sungguh –
sungguh menakutkan ujudnya. Ia adalah batara Yama dan berdiri di sisi Setiawan.
Kemudian ia berkata, “Hai Sawitri, suamimu hidupnya telah habis.” Dan
barata Yama pun berjalan pergi dengan menjerat serta membawa nyawa
Setiawan. Dewi Sawitri, istri yang setia yang telah memenuhi
janji itu dengan rasa pilu mengikuti batara Yama. Maka sabda batara
Yama, “Kembalilah hai Sawitri, berbuatlah untuk merawat mayat suamimu,
kau telah memenuhi segala kewajiban terhadap suamimu.” Jawab Sawitri,
“Ke mana junjungan patik dibawa, ke situlah patik pergi.
Oleh karena itu janganlah ditolak perjalanan patik.” “Perkataanmu
sungguh tinggi artinya, oleh karena itu mintalah sesuatu pasti akan
kukabulkan asalkan jangan minta mayat suamimu dihidupkan kembali.” Jawab
Sawitri, “Kembalikan kerajaan, kekuasaan, dan kesehatan mertua patik
sehingga beliau dapat melihat kembali.” Sabda batara Yama, “Permintaanmu
akan kuberi, dan kembalilah kamu supaya tidak payah di jalan.” Tetapi
kata Dewi Sawitri, “Patik tidak akan payah selama berdampingan dengan
suami patik, karena sekali patik bercampur dengan seorang yang berbudi,
selama itulah patik akan mengabdi.” Sabda sang betara Yama, “Perkataanmu
sungguh menyenangkan orang budiman, oleh karena itu mintalah sekali
lagi, asal tidak minta hidupnya kembali Setiawan.” Jawab Dewi Sawitri,
“Mohon
kami diberi 100 orang putra dan hidup di suatu kerajaan yang panjang
punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta
raharja.” Sabda batara Yama, “100 orang putra yang gagah perkasa,
bahagia sempurna akan kuberi dan sekarang kembalilah Sawitri, karena kau telah berjalan terlalu jauh.”
Dewi Sawitri berucap, “Bagaimana patik dapat berputra 100 orang,
apabila patik tidak bersuami, tak ada gunanya patik selamat dan bahagia,
jika suami patik tak ada. Oleh karena itu hidupkanlah Setiawan
junjungan patik.” Batara Yama bersabda, “Baiklah kulepas nyawa suamimu,
berbahagialah engkau dengan junjunganmu. Dan Setiawan akan kuberi usia
100 tahun.”
Sesudah mengabulkan permintaan Dewi Sawitri, maka lenyaplah batara
Yama dan pergilah Sawitri ke tempat suaminya berbaring. Dengan perlahan –
lahan duduk bersimpuh dan mengangkat kepala Setiawan ke haribaannya.
Tak lama kemudian Setiawan membuka matanya bagaikan orang tidur terlalu
lama. Dewi Sawitri dengan perasaan haru, sambil menyanggul rambutnya
memelukkan tangannya kepada suaminya.
Waktu itu hari telah larut malam. Kedua insan yang berbahagia itu
sedang bersiap – siap hendak pulang ke pertapaan. Sementara itu Prabu
Jumat Sena yang berada di pertapaan sangat terkejut karena tiba – tiba
ia dapat melihat kembali. Dengan rasa bersyukur dan bahagia kepada Yang
Maha Kuasa, beliau menanti kedatangan putra – putranya. Tak lama
kemudian datanglah Setiawan dengan Dewi Sawitri dan sambil bersujud,
berceritalah Dewi Sawitri di hadapan mertuanya apa yang telah dialaminya
selama di hutan, serta perjumpaannya dengan batara Yama.
Sawitri gaya Surakarta
ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ
Kisah Sawitri, Cinta Istri yang Merubah Takdir
Ceritanya sekarang bukan cerita carangan, tapi cerita asli yang ada di Mahabharata, meskipun bukan cerita mainstream.
Retno Sawitri, sang juwita,
bunga kerajaan Mandaraka sudah masak secara fisik dan mental untuk
memasuki dunia perkawinan. Kecantikannya sempurna, tubuhnya semerbak
mewangi (halah, lebay deh). Bukannya tidak ada raja atau putra raja yang datang melamar, tapi dia keukeuh, ogah kawin kalau laki-laki itu bukan pilihannya sendiri.
Ayahnya, Prabu Aswapati, raja Mandaraka (Prabu Aswapati ini leluhur Salya, seorang “key person”
di cerita Bharata Yudha, kesaktiannya nyundul plafon eh,….langit!.
Salya ini punya adik, satu-satunya adiknya, namanya Dewi Madrim, yang
kemudian nikah dengan Pandu dan berputra Nakula dan Sadewa, si kembar
Pandawa itu……halah, jadi ngelantur. Kapan-kapan aja dah cerita tentang Salya, kalau ada yang mau baca!).
Sampai mana tadi? (pikun mode on)
Prabu Aswapati yang sudah mpet pada kelakuan anaknya ini sering bertanya kepada anaknya (kira-kira gini omongnya, gak pakem blas)
“Ndhuk, putri pun Romo kang dhenok dhebleng, kalaupun Romo sudah oke kalau kamu mau pilih suamimu sendiri. Terus kapan kamu mau mutusin pilihanmu itu?”
Dan anaknya pun menjawab, kira-kira juga begini:
“Bes! (dari kata Ebes, panggilan kepada ayah, khas orang Ngalam), nantilah, waktunya belum datang!”
“Terus,….kapan itu?” kejar bokapnya.
“Nantilah, Sawitri tahu kok kalau waktunya tiba, Ebes kalau kadit itreng gak usah ikut ribut dah!”. (Kadit itreng = tidak ngerti, cara Ngalam)
Ditengah Ayahnya yang pusing itu,
tiba-tiba saja Sawitri bilang kalau dia sudah menemukan laki-laki
pilihannya. Seluruh istana gempar dengan pilihan itu, meskipun tak ada
cacat yang terlihat pada diri Bambang Setiawan sang terpilih ini. Setiawan secara fisik sempurna, cuakep kaya dhalangnya (tapi bukan saya dhalangnya ya!), putra brahmana Resi Jumatsena dari Argakenanga. Jadi secara bibit, bebet dan bobot tidak ada alasan bagi Prabu Aswapati untuk menolak calon menantunya ini.
Tapi ada masalah besar yang akan
menyertai perkawinan Setiawan-Sawitri ini. Dari semadinya, Prabu
Aswapati segera tahu kalau umur Bambang Setiawan hanya tinggal setahun
lagi. Ketika dikonfirmasi kepada putrinya, ternyata Sawitripun juga
tahu, tapi tetap tidak merubah keputusannya. Baginya : ”Hidup setahun bersama orang yang saya cintai, lebih berharga dari hidup wajar selama seratus tahun” (halaaah, klepek-klepek dah yang nulis!).
Karena merasa tidak mampu menentang kemauan putrinya yang koppeh (=koppig, Bahasa Holanda untuk kepala batu)
ini, akhirnya pernikahan Satiawan-Sawitri berlangsung juga. Masa
perkawinan yang hampir dipastikan hanya berjalan setahun ini, dijalani
Sawitri-Setiawan dalam manisnya madu kehidupan. Tapi Sawitri tidak
pernah lupa bahwa umur suaminya tiap hari makin berkurang juga.
Diputuskanlah bahwa dia akan berusaha melawan takdir itu sekuat dia
bisa. Bermacam cara dilakukan dalam laku keprihatinan dan doa, agar
nyawa suaminya tidak jadi diambil. Tapi takdir memang kejam. Dan hari
akhir buat Setiawan itupun datanglah.
Berbeda dengan kebanyakan orang,
Sawitri mampu melihat kedatangan Batara Yamadipati, Sang Dewa Pencabut
Nyawa yang mendatangi suaminya. Yamadipati yang dilukiskan berwajah
raksasa, kepalanya nongol begitu saja dari badan zonder leher, mulutnya selalu terbuka seperti tertawa (meskipun gak ada manusia yang berani mengatakan bahwa dia sedang tertawa). Blas, gak ada lucu-lucunya. Penampilan Yamadipati selalu serius, tidak cengengesan seperti Narada. (Kalau Narada yang Sekjen Kahyangan itu kan sering membanyol. Omongannya yang selalu dibuka dengan kata-kata ngawur: “Blegenjong, blegenjong“. Kepalanya yang selalu mendongak ke atas, kecuali kalau nemu duit seratus ribuan di tanah)
Sawitri yang sudah terkenal karena kelakuannya yang kepala batu ini segera menerapkan ajian “diving“nya (Seperti Puyol yang mengaduh-aduh ketika ditowel CR7) tidak menerapkan ajian apa-apa (takut pada fans Barca yang demo…..). Cuma ilmu ngeyel nya
yang abis-abisan diterapkannya. Tujuannya cuma satu, membatalkan atau
paling tidak menunda kematian suaminya. Akhirnya, Yamadipati bersedia
menunda kematian Setiawan sejam saja. Hanya menunda! (Waktu sejam itu mestinya digunakan mereka buat ehm, ehm kan? Gak usah saya ceritakan ah! Parno!).
Akhirnya waktu sejam itu juga habis dan dengan kepala dipangkuan
isterinya, nyawa Setiawan dicabut Yamadipati meninggalkan raganya.
Tapi berbeda dengan perempuan lain yang
hanya mampu menangisi kematian suaminya, Sawitri segera bangkit dan
mengikuti kepergian Yamadipati. Heran dengan kelakuan Sawitri yang di
luar kebiasaan ini, Yamadipati segera bertanya
“Apa maumu, Sawitri?”
“Hamba akan ikut kemanapun nyawa suami hamba akan dibawa” jawab Sawitri
“Itu gak mungkin, ndhuk! Suamimu sekarang sudah berbeda alam denganmu!”
“Ambil saja nyawa hamba sekalian kalau begitu, pukulun! Biar hamba bisa bersatu dengan suami hamba!” kata Sawitri nangis bombay.
“Itu juga gak mungkin. Belum saatnya kamu mati sekarang” Yamadipati mulai jengkel. Baru kali ini ada manusia yang ngeyel seperti ini.
“Kalau gitu, hamba akan ikut kemana nyawa suami hamba dibawa pergi. Titik!” Sawitri ngotot.
Yamadipati yang jengkel bukan main,
segera pergi dan berniat menghilang dari hadapan pengganggunya ini. Tapi
ajaibnya, di depan Sawitri, semua kesaktian dan kemampuan kadewatan yang biasa dimiliki Yamadipati menguap begitu saja. Dia tidak mampu melepaskan diri dari Sawitri!.
Et dah!
Ayolah, pikir Yamadipati, kalau aku
gak mampu meninggalkan perempuan ini, masa sih dia tahan berjalan
jauh?. Jadilah Yamadipati sengaja berjalan muter-muter
kemana-mana diikuti Sawitri, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan (kata
dhalangnya sih…). Tapi ternyata Yamadipati juga salah memperkirakan
kemampuan fisik Sawitri yang dikiranya lemah. (Jelas, dalam hal ini
Yamadipati ini salah prediksi. Dia mungkin belum pernah tahu kalau dari
tangan perempuan yang katanya lemah ini bisa meluncur “UFO” atau gilingan cabe, yang bisa membuat pria seperkasa Ade Rai pun tumbang). Sawitri gak ada capeknya!
“Sudahlah Sawitri,
pulanglah, kau sudah berjalan terlalu jauh. Lihatlah badanmu sekarang
yang tak terurus. Kain dan pinjungmu sudah belel, sobek di sana sini
tercabik onak dan duri. Kulitmu menghitam dan pecah-pecah terpanggang
matahari. Rambutmu yang awut-awutan gak pernah keramas. Gak sayangkah kamu akan kecantikanmu sendiri, ndhuk?” Yamadipati menyerang, haluuuus, tapi langsung. Kick and Rush!
“Ya sayanglah, pukuluuun. Perempuan mana sih yang gak peduli penampilannya?” Sawitri mewek-mewek.
“Kalau begitu pulanglah. Rawatlah dirimu. Keramasilah rambutmu, mumpung ada promosi shampo.
Kalau kecantikanmu pulih kembali, masih banyak lelaki lain yang bisa
kau ajak hidup bersama” Yamadipati seneng betul, rayuannya manjur.
“Lelaki lain itu untuk perempuan lain, pukulun. Lelaki hamba ya hanya itu. Lagian sekarang iklan shamponya udah gak ada kan?. Hamba gak punya pilihan lain. Jadi bolehkah nyawa suami hamba, hamba ajak pulang sekalian?” Ngeyelnya Sawitri kumat lagi……….
Yamadipati cep klakep. Gondok betul dia!
Perjalananpun dilanjutkan dalam diam. Kemudian terlintas ide baru dari
sang Yamadipati. Kini dia memilih memakai pola serangan yang tidak
langsung. Gaya tiki-takanya si Uncle Pep.
“Pulanglah Sawitri,
Kau kan tahu si Jumatsena mertuamu itu yang tadinya raja? Yang karena
kesehatannya terganggu jadi kekuasaannya di kudeta orang? Sekarang
kesehatannya dan kekuasaannya kukembalikan. Pulanglah. Bantulah mertuamu
itu!” Yamadipati membujuk dengan bonus.
“Hamba masih tetap ingin bersama suami hamba!” Sawitri bergeming, biarpun ada bonus.
“Sudahlah, sekarang kuberi kalian 100 orang putra-putri dan hidup di suatu kerajaan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta raharja. Dan sekarang kembalilah, pulanglah!.” Yamadipati membujuk lagi dengan menambah bonusnya.
“Gak mau pukulun, 2 orang anak saja cukup, sesuai KB, lagian siapa yang ngempanin anak segitu banyak? Bapaknya kan gak ada?” Sawitri nyamber, ngeyel.
“Hlo, hlo, menurut
pakem pewayangan, anak kalian ada 100 orang! Jangan merubah pakem ah,
tar diomelin orang banyak!” kata Yamadipati bersungut-sungut.
“Biarin, 2 anak saja cukup dan hamba gak mau pulang kalau tidak bersama suami hamba!” Sawitri keukeuh saja.
Merasa rugi karena sudah memberi bonus tanpa hasil, sambil marah-marah Yamadipati meneruskan langkahnya dan Sawitri tetap menginthili di belakangnya. Sekarang gangguan itu bertambah karena sambil jalan, Sawitri ndremimil (ngomel-ngomel sendiri gak ada putusnya).
“Hamba ini kagum hlo sama om
Yamadipati ini, ditinggal pergi sama isterinya masih mampu hidup seolah
tanpa ada masalah” terdengar Sawitri berkata. Loh, panggilan “pukulun” kok berubah jadi “om“?
“Apa maksudmu, Sawitri?” seperti disengat lebah Yamadipati berbalik.
“Iya, hamba ini sangat kagum sama om Yamadipati ini. Kesaktiannya mampu membuat semua orang takut, tapi ketika isteri om Yamadipati, Dewi Mumpuni selingkuh dengan Bambang Nagatatmala putra Sanghyang Antaboga, eeeh si om gak marah, malah menyerahkan isteri om kepada laki-laki itu”
Gubraaaaakk! Dari marah luar biasa karena rahasianya yang paling dalam sudah dibongkar Sawitri, pelan-pelan perasaan Yamadipati menjadi semeleh dan trenyuh. (Ihlas dan terharu gitu loh!)
“Sudahlah, sudahlah,
Sawitri! Aku kagum akan kesetiaanmu terhadap suamimu. Tidak seperti
mantan isteriku yang tipis budinya itu. Terimalah, kukembalikan nyawa
Setiawan kepadamu. Jagalah dia baik-baik jangan sampai dia nanti lupa
kejadian ini, terus poligami yaa?”. (jelas, hal yang menyangkut poligami ini cuma hasil iseng yang nulis aja. Gak ada di pakem! Biar lebih dramatis gitu……)
Bisa dibayangkan betapa gembiranya Sawitri menerima suaminya kembali? Gak usah ditambah-tambah lagi dengan kalimat lain kan?
(Fragmen Sawitri-Setiawan ini
terukir jadi relief pada Candi Penataran Blitar. Candi Hindu yang
dibangun tahun 1194M, yang mengukir figur manusia pada reliefnya mirip
dengan figur wayang kulit)
Pesan cerita.
Dewi Sawitri memang menjadi teladan bagi seorang isteri yang ngeyel,
eh salah……. seorang isteri yang setia. Karena kesetiaan dan cintanya,
dia bahkan mampu membalikkan takdir dan mengembalikan nyawa suaminya.
Pesan ini tersurat amat kuat di ceritanya kan?.
Tapi kalau boleh, yang nulis ingin
menambah dengan pendapat yang amat subyektif. Biarpun kita semua
percaya takdir, tapi takdir buruk itu bisa dirubah dengan niat, kemauan
keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Takdir hanyalah hasil akhir,
sebelum itu adalah “kerja” keras yang ngeyel dan tanpa henti.
ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ